Sebuah essay dari pengalaman pribadi tentang diaspora China

Diaspora China

Oleh: Mardigu Wowiek

Makan siang setelah kewajiban jumat di bilangan kuningan hari ini. kami ber 4 makan salad. Terutama saya yang mengusulkan, saya lagi sok-sokan makan alkali mencoba mempertahankan ph balance tubuh agar selalu basa.

Pokoknya saya lagi genit deh urusan badan. Makan siang dengan teman-teman lama yang dulu kami pernah bisnis bareng yang kemudian sepakat saya jual kepemilikan saya kepadanya, karena saya butuh cash keras kala itu.

Dia menceritakan bahwa dia drop sebuah proyek besar di siak karena masalah “financial closing” tidak dapat dukungan funder.

Saya bertanya, “Lho kok proyek di Siak nggak ada strategi lain pak?”

“Sulit cari pinjaman di jaman sekarang mas,” demikian dia menjawab. Swasta murni kalau green field company sulit bergerak.”

“Tahun kemarin bukannya ada denger-denger bapak ke china cari pembiayaan?” Saya menyelidik.

“Nah..ini kalau ke china kembali ke masalah idealisme, bukan ke masalah uang. Sudah teken, sudah depe, saya balikin semua. Nggak bisa, nggak bisa.”

“Tadinya saya berfikir dengan siapapun bisa (bisnis) namun ternyata ketika bolak balik ke china kesimpulan saya satu, demi nasionalisme, saya tolak dan lebih baik nggak saya jalankan proyeknya.”

“Wah pak, kok ekstreem banget?” Saya bertanya terus.

“Begini,” katanya menjelaskan, “Saya ke china berbisnis tidak masalah, sekali lagi berbisnis dengan china tidak masalah. Yang saya mundur adalah berbisnis dengan BUMN china. Dengan mata kepala sendiri saya melihat dan memahami setelah bolak balik dengan mereka dalam 1 tahun. Pertemuan demi pertemuan, diskusi dan menyaksikan sendiri apa dan siapa mereka.”

China membagi 2 secara global bisnis nya, dalam negeri swasta yang mengelola dan yang bermain hingga 80%. Luar negeri BUMN china yang bermain hampir 90%nya.

Pemerintah dukung dana, dukung fasilitas lainnya ke BUMN china untuk menggarap luar negeri.

Dengan 1,4 milyar manusia di china maka china memerlukan pangan dan kerja buat penduduknya. Mereka membuat grand strategi dan policy: “China is not a country china is civilization,” China bukan negara tetapi komunitas. Diaspora china menguasai seluruh jagad raya. 2-5% sebuah negara pasti diaspora china.
Dan bagi mereka (tiongkok) melihat mereka semua itu sebagai satu civilization.

Lalu, saya perhatikan semuanya yang kerja di luar china (BUMN china) semua muda-muda. Single! Paling tua 35 tahun.

Target mereka jelas karena terucap, mereka itu akan di jadikan diaspora, nggak usah pulang kalau perlu. Single, kawin dengan penduduk lokal, baik china diaspora atau pribumi, nggak masalah.

Lebih murah bagi mereka orang-orang itu tidak pulang. Targetnya seluruh dunia setiap negaranya akan dinaikkan diaspora china nya double dalam 10 tahun kedepan.

Misalnya di indonesia diaspora china ada 3% populasi dalam 10 tahun akan menjadi 6% penduduk. Ini mungkin banyak yang tidak percaya informasinya. Ini strategi china, ini bagian dari OBOR.

Semua orang yang bekerja di BUMN china di luar negeri telah mengikuti semacam wajib militer. Mereka terdidik secara militan dan militer.

Dengan pengetahuan ini saya putuskan. Saya tidak akan berbisnis dengan china. Ini sama saja dengan menjual bangsa menjual negara menjual NKRI. Lebih baik proyek saya tidak jalan dari pada bangsa indonesia tergadai.

Dan sekarang saya bingung dengan pemerintah indonesia yang malah memfasilitasi china masuk, BUMN indonesia dengan BUMN china bekerja sama, diaspora tadi sebentar lagi jadi ancaman nasional, soft treat.

Banyak yang terbuai uang, terbuai proyek, namun menggadaikan kedaulatan bangsa. Saya miris dengan ini semua. Dia melanjutkan monolognya, saya berharap ini karena “by accident” karena kealfaan, karena kelupaan pemerintah, karena ketidaktahuan pemerintah, namun kalau ini “by design” dengan sengaja melakukannya chinanisasi – memasukan diaspora china baru akan mengikuti juga faham komunis besertanya, maka saya rasa rakyat tidak akan diam. #peace

Sumber: https://forum.rumahilmu.or.id/discussion/146/diaspora-china-oleh-mardigu-wowiek#latest

PILIHAN REDAKSI