Majalah kontroversial Charlie Hebdo kembali sebarkan Islamofobia

Sampul depan Majalah Charlie Hebdo edisi terbaru dianggap menyebarkan kebencian terhadap umat Muslim karena mengaitkan Islam dengan terorisme

PARIS (UMMAT Pos) — Majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, kembali menjadi pusat kontroversi karena sampul depan edisi terbarunya tampak menyalahkan Islam atas serangan teroris Eropa.

Ilustrasi sampulnya menggambarkan 2 pejalan kaki yang bersimbah darah setelah ditabrak dengan van yang melaju kencang, disertai dengan tulisan: “Islam adalah agama dengan perdamaian abadi.”

Topik ini segera menjadi salah satu topik terpopuler Twitter di Prancis. Pengguna Twitter menyebut tindakan Charlie Hebdo sebagai “Islamofobia”, “rasis”, dan “hina”.

Pengguna Twitter juga menuding majalah tersebut menyebarkan kebencian terhadap umat Muslim karena mengaitkan Islam dengan terorisme.

Anggota parlemen sosialis terkemuka dan mantan menteri Stephane Le Foll mengatakan, Charlie Hebdo berisiko menyebarkan Islamofobia.

“Mengatakan Islam adalah agama perdamaian dengan menyiratkan bahwa sebenarnya agama kematian adalah tindakan yang sangat berbahaya,” kata Le Foll kepada stasiun televisi Prancis BFMTV.

“Jika Anda seorang jurnalis, Anda harus belajar menahan diri karena pengasosiasian ini bisa digunakan oleh masyarakat luas,” tambahnya.

Sampul depan majalah tersebut terbit sesaat setelah terjadinya serangan teroris di Las Ramblas di pusat Barcelona, dan insiden lainnya di Kota Cambrils, Catalunya, yang menewaskan 15 orang dan menyebabkan lebih dari 100 orang luka-luka.

Prancis, dan Eropa secara umum, telah mengalami serangkaian serangan teroris yang melibatkan kendaraan sebagai senjata untuk menarget warga sipil tanpa pandang bulu.

Baik Muslim maupun non-Muslim telah menjadi korban serangan teroris di London, Berlin, Nice, dan tempat lainnya.

Charlie Hebdo sendiri pernah menjadi sasaran serangan teror pada Januari 2015, ketika 2 orang bersenjata menyerang kantornya di Paris, dan menewaskan 12 orang.​ [fm/anadolu]