Dulu saya termasuk menyia-nyiakan shalat, bagaimana taubatnya?

Pertanyaan:
Dalam rentang waktu yang lama dari umur saya tidak melakukan shalat. Lalu saya bertaubat kepada Allah pada masa-masa terakhir ini dan saya rajin menunaikan shalat. Apa hukum masa lalu saya yang tanpa shalat?

Jawaban:

Alhamdulillah

Ingatlah nikmat Allah yang diberikan kepada anda ketika mengembalikan anda ke Islam setelah anda meninggalkan shalat. Maka rajinlah menunaikan shalat pada waktunya dan perbanyak shalat sunah sebagai pengganti dari yang terluput dari shalat fardu sebagaimana yang ada dalam hadits Shahih dari Huraits bin Qobisah berkata:

قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Saya datang di Madinah dan berdoa, ‘Ya Allah mudahkan diriku untuk mendapatkan teman yang saleh. Maka saya duduk disamping Abu Hurairah dan mengatakan, “Sesungguhnya saya memohon kepada Allah agar diberi rezki teman saleh, maka beritahukan kepada diriku dengan hadits yang anda dengarkan dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam semoga Allah dapat memberikan manfaat untuk diriku. Maka beliau mengatakan, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Kalau shalatnya baik, maka dia akan selamat. Kalau shalatnya rusak, maka dia celaka dan merugi. Kalau (shalat) Fardunya ada yang kurang, Tuhan berfirman ‘Lihatlah apakah hambaKu mempunyai shalat sunah untuk melengkapi yang kurang dari shalat fardu. Lalu hal itu berlaku untuk seluruh amalan lainnya.” (HR. Tirmizi no. 413, terdapat dalam kitab Shahih Al-Jami, no. 2020)

Diriwayatkan dari Anas bin Hakim Dhabbi bahwa beliau datang di Madinah dan bertemu dengan Abu Hurairah, lalu dia bertanya nasabku maka aku sebutkan nasabku kepadanya. Dan beliau mengatakan:

يَا فَتَى أَلا أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا قَالَ قُلْتُ بَلَى رَحِمَكَ اللَّهُ قَالَ يُونُسُ وَأَحْسَبُهُ ذَكَرَهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Wahai pemuda, apakah anda mau saya beritahu sebuah hadits. Saya menjawab, ‘Ya. Semoga Allah merahmati anda. Yunus mengatakan, “Saya mengira beliau menyebutkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang manusia pada hari kiamat adalah shalat. Tuhan kami Azza wa Jalla mengatakan kepada Para Malaikat-Nya dan Beliau lebih mengetahui, “Lihatlah shalat hamba-Ku. Apakah sempurna atau kurang. Kalau sempurna maka ditulis sempurna untuknya. Kalau ada kurang sesuatu darinya, maka (Allah) berfirman, “Lihat, apakah hamba-Ku mempunyai shalat sunah. Kalau dia mempunyai shalat sunah, Dia Berkata, “Sempurnakan yang wajib untuk hamba-Ku dari sunahnya. Kemudian diambil amalannya berdasarkan hal itu.” (Shahih Al-Jami, no. 2571)

Sumber:  Islam Question and Answer

General supervisor: Syekh Mohammad Al Munajjed

Sat 25 DhH 1438 – 16 September 2017