UBN: Cerdas Dalam Berhijrah, Jangan Jalan Sendirian, Jangan Sok Tahu

JAKARTA (UMMAT Pos) – Guna menguatkan komitmen dalam berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, setidaknya ada beberapa perangkat yang harus dilengkapi, diantaranya adalah pentingnya kebersamaan. Hal ini telah dibuktikan dalam sirah (kisah perjalanan hidup) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pesan tersebut disampaikan Pimpinan Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL Center), Ustadz KH. Bachtiar Nasir saat menyampaikan taushiyahnya di Masjid Agung Al Azhar Jakarta Selatan belum lama ini.

“Jadi kalau berhijrah itu jangan sendirian, dan jangan jalan sendiri. (Sebab) Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama sahabat Abu Bakar radhiyallahu anhu dan ingat, ketika berhijrah Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga diback up oleh beberapa orang penting dalam hijrahnya,” kata Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) tersebut, Kamis, (21/9/2017).

BACA JUGA:  Tokoh Taufik Ismail Ingatkan Bahaya Kebangkitan KGB

Orang yang berjalan sendirian menurut Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) ini akan mudah mengalami patah semangat atau dikenal dengan istilah futur.

“Orang yang biasanya sendirian, ngaji sendiri, baca buku sendiri, tidak mau bergaul dengan masyarakat, tidak mau berjamaah, biasanya akan mogok di tengah jalan, awal-awalnya doang semangat, setelah itu balik lagi,” ujar pria yang akrab disapa UBN ini.

UBN menambahkan tips berikutnya untuk menjaga stamina semangat berhijrah dengan strategi yang jitu.

Orang yang berhijrah menurutnya akan tampak bergelora jiwanya, mereka biasanya mau menjalankan perintah agama 100 persen tapi meninggalkan larangan sedikit demi sedikit.

Beliau mencontohkan orang yang ingin meninggalkan kebiasaan merokok dengan menghabiskan sebungkus rokok dan meninggalkan sebatang rokok saja. Kemudian esoknya sebungkus rokok dihabiskan dengan menyisakan dua batang, namun di hari-hari berikutnya nya ia pun kembali lagi menghabiskan sebungkus tanpa ada yang disisakan.

Hal ini terjadi karena semangat menjalankan perintahnya tidak sebanding dengan semangat meninggalkan larangan.

“Meninggalkan larangan itu harus ber-revolusi meskipun dalam menjalankan perintahnya dengan ber-evolusi, tapi jangan sendirian,” pungkasnya. [fm/up]

 

PILIHAN REDAKSI