Tabung Haji Malaysia Kunjungan Studi Pengelolaan Haji ke PPIH Indonesia di Arab Saudi

Tim Tabung Haji Malaysia dipimpin langsung oleh Amirul Haj Datuk Syed Saleh Syed Abdur Rahman. Ikut dalam rombongan, para pengarah operasional atau Kepala Bidang Layanan

MAKKAH (UMMAT Pos) — Tim Tabung Haji Malaysia kembali bersilaturahim dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Pertemuan ini dilakukan rutin dalam beberapa tahun terakhir. Untuk tahun ini, pertemuan digelar di Kantor Daker Makkah, 19 September 2017.

Tim Tabung Haji Malaysia dipimpin langsung oleh Ketua Rombongan (semacam Amirul Haj) Datuk Syed Saleh Syed Abdur Rahman. Ikut dalam rombongan, para pengarah operasional (semacam Kadaker dan Kepala Bidang Layanan).

Tim Tabung Haji Malaysia ini diterima oleh Direktur Layanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, Staf Teknis 3 Kantor Urusan Haji Ahmad Jauhari, Kadaker Makkah Nasrullah Jasam serta para Kasi Layanan di Daker Makkah.

Menurut Nasrullah, pada awal pertemuan, Syed Saleh menyampaikan maksud kedatangannya untuk meminta sharing pengalaman pelayanan jemaah haji yang dilakukan oleh PPIH Arab Saudi. Syed Saleh mengatakan kalau profil jemaah Malaysia mirip dengan jemaah Indonesia, baik dari sisi usia, pendidikan, maupun profesi. Kuota haji Malaysia tahun ini berjumlah 30.200 dengan masa tinggal di Arab Saudi selama 45 – 55 hari.

“Mereka ingin tahu pengelolaan jemaah haji Indonesia, mulai dari persiapan di Indonesia, manasik, sampai dengan operasional di Arab Saudi,” terang Nasrullah di Makkah, Jumat (22/09).

Sesuai tujuan yang disampaikan Tim Tabung Malaysia, lanjut Nasrullah, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis memaparkan data jemaah dan manajemen operasional haji Indonesia. Tahun ini kuota haji Indonesia kembai normal menjadi 211ribu. Indonesia juga mendapat tambahan 10ribu sehingga total kuotanya menjadi 221ribu.

Dalam pertemuan ini diketahui kalau Malaysia juga mempunyai keluhan yang sama dengan Indonesia tentang layanan muassasah dan maktab saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Keluhan itu terkait dengan layanan katering, tenda, dan proses keberangkatan jemaah dari hotel menuju Masyair.

Nasrullah menambahkan, Tim Tabung Haji Malaysia juga berbagi pengalaman dengan Indonesia, terutama terkait manasik haji. Menurut Nasrullah, mereka mengadakan 17 kali pertemuan untuk manasik dasar, dan dua hari manasik intensif (praktik). Selain itu, ada juga manasik yang khusus untuk menggambarkan suasana Armina, misalnya dengan praktik tinggal ditenda berdesak-desakaan.

“Setelah manasik, mereka mengadakan ujian untuk mengukur pemahaman jemaah terhadap materi yang disampaikan. Jemaah yang dinilai belum lulus akan diberi manasik lagi,” tandasnya.

Usai pertemuan, Tim Tabung Haji sempat meninjau suasana kantor layanan Daker Makkah. Mereka juga melihat dan berdiskusi tentang display informasi yang tersaji di kantor daker Makkah.

Sumber: Kemenag

PILIHAN REDAKSI