Jonru, Penulis Fiksi Romantis yang Terjerat Ujaran Kebencian

JAKARTA (UMMAT Pos) — Jon Riah Ukur Ginting alias Jonru Ginting memiliki sisi kehidupan lain yang bertolak belakang dengan statusnya saat ini sebagai tersangka kasus ujaran kebencian. Jauh sebelum populer di media sosial lantaran status-statusnya yang kontroversial, Jonru rupanya pernah menghasilkan dua buku fiksi tentang percintaan remaja.

Sejak Sabtu (30/9) Jonru resmi mendekam di Rumah Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya sebagai tersangka kasus ujaran kebencian.

Pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, 46 tahun silam ini mengaku sudah terbiasa menulis sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar.

Jonru terus mengasah kemampuan menulisnya hingga, pada pertengahan 2000-an, ia berhasil menerbitkan sejumlah karya.

Bukan, karya-karyanya itu tak berisi kritikan terhadap pemerintah seperti kerap ia tuangkan di akun Facebooknya, dua tahun terakhir. Karya-karyanya justru berupa novel dan kumpulan cerita pendek yang berkisah tentang percintaan masa remaja.

Novel pertama Jonru diberi judul Cinta Tak Terlerai yang terbit 2005 silam. Pada tahun yang sama ia menelurkan kumpulan cerpen berjudul Cowok di Seberang Jendela, diikuti oleh novel berikutnya pada 2013 yang diberi judul Cinta Tak Sempurna.

“Ternyata Jonru bisa romantis juga,” ujar Jonru sambil sedikit tertawa.

Jonru mengaku tak bisa mengingat jumlah karya yang sudah dia hasilkan. Pembicaraan kemudian kembali menyinggung soal aktivitasnya di dunia maya, terutama Facebook.

Pria jebolan Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah tahun 1998 ini adalah salah satu ‘selebriti’ media sosial. Ia dikenal karena status-statusnya kerap mengkritik pihak-pihak tertentu.

Jonru mengelola halaman bernama Jonru Ginting yang disukai dan diikuti hampir 1.500.000 netizen.

Di halaman itulah dirinya rutin menulis status-status berisi bernuansa sosial politik. Status-statusnya tak jarang menjadi kontroversi dan viral karena dinilai kerap menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Atas anggapan SARA itu, Jonru mengaku hanya menuangkan buah pikiran yang dirasakannya soal fenomena di sekitarnya. Tulisan itu bisa berupa fakta atau opini.

“Saya hanya menyampaikan fakta, bukan melecehkan,” ujarnya.

Sejak mendekam di rutan, Jonru kini tak bisa lagi mengelola halaman Facebook itu. Ia bahkan mengaku telah lupa kata sandi untuk membuka halaman itu.

Berdagang Online

Selain aktif menulis status bertema sosial-politik, Jonru juga mengaku memanfaatkan halaman Facebooknya sebagai media untuk berdagang.

Di halaman Facebook itu dan di Instagram, Jonru menjajakan barang dagangannya seperti buku dan pakaian.

Dia juga mengelola yayasan sosial Akrom Foundation. Yayasan sosial itu bukan miliknya secara pribadi.

Akrom Foundation berdiri sejak 2015 dan memiliki cabang di Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Ayah dari tiga anak itu mengatakan, Akrom Foundation fokus pada bantuan wakaf, pembangunan pesantren, bantuan orang sakit serta untuk korban bencana.

“Saya hanya dipercaya untuk mengelola yayasan itu,” ucapnya.

Kepada wartawan, Jonru juga mengungkapkan rencananya menjalankan ibadah umroh pada November. Umroh itu, kata dia, adalah hadiah yang diberikan oleh lembaga bernama Cendekia Muslim Mandiri.

“Saya tidak tahu alasannya, saya hanya dihubungi dan diberitahukan jika saya mendapatkan hadiah umroh, mungkin simpati sama saya,” ujarnya.

Di tengah keinginannya menunaikan umroh, Jonru mengatakan siap menjalani prosedur hukum yang berlaku, termasuk jika pada akhirnya dicekal pergi ke luar negeri.

Jonru juga menyatakan tak menyesali apa yang telah diperbuatnya sehingga masuk penjara. Mendekam di rutan, kata Jonru, membuatnya mendapatkan pelajaran positif.

“Saya jadi lebih banyak beribadah. Saya juga merasakan kalau dukungan keluarga begitu besar, saya belum menyadari hal ini dulu,” tuturnya. (fm/cnn)

PILIHAN REDAKSI