Yang Berguguran Setelah Kuliah

Oleh: Ahmad Sarwat*

KALI ini kisahnya tentang mereka yang sudah berhasil menyelesaikan kuliah syariah.

Bahkan boleh jadi nilainya lumayan bisa dibanggakan, plus gelarnya juga mantab punya. Gelar yang jarang-jarang dimiliki oleh sembarang lulusan lobak, el-ce (Lc) gitu loh.

Tetapi sayangnya, ilmu yang dengan susah payah dicari itu, akhirnya malah tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebab pekerjaan dan aktifitas yang digelutinya nyaris tidak ada kaitannya sama sekali dengan apa yang dipelajari selama hampir tujuh tahun lamanya.

Ada yang kerja menjadi guru di sekolah level SD, memang sih SDIT, tetapi materi yang diajarkan cuma bahasa Arab saja. Padahal kalau cuma jadi guru bahasa Arab, nggak perlu kuliah di fakultas Syariah pun sudah bisa. Cukup lulusan i’dad lugohawi 2 tahun, paling tinggi lulus takmili deh.

Ada juga yang kerja jadi pegawai swasta di sebuah perusahaan. Apa yang dikerjakan setiap hari nyaris nggak ada hubungannya dengan apa yang dipelajari selama ini. Gajinya lumayan tinggi, bisa menjamin hari depan. Tetapi ilmunya jadi tidak banyak berguna.

Ada yang buka jasa rukqyah, spesial untuk mereka yang kena sambet setan, jin dan sebangsanya. Seingat saya waktu kuliah di LIPIA dulu, tidak ada mata kuliah yang judulnya kesambet setan belang. Kok tiba-tiba sekarang jadi kerja yang harus saingan sama pemburu hantu? Saya suka garuk-garuk kepala yang tidak gatal, kalau melihat fenomena ini.

Ada juga teman yang jadi wartawan. Tiap hari pekerjaannya memburu berita. Lama-lama jadi bos media pemberitaan.

Ada juga yang jadi pembimbing haji dan umrah. Tiap bulan bolak-balik ke tanah suci bawa jamaah. Sampai saya pun pernah diseret-seret untuk ikut jadi pegawainya, disuruh ngangkutin koper dan belanjaan jamaah.

Ada juga yang jadi birokrat bahkan jadi anggota majelis wakil rakyat. Tiap hari sibuk rapat, meeting, dan melakukan deal-deal politik, termasuk kalau sudah musimnya, dia sibuk berkampanye menjajakan dirinya biar dipilih dan dapat kursi.

Semua jenis profesi dan aktifitas di atas 100% baik dan halal. Tidak ada yang melarang lulusan fakultas syariah untuk bekerja di bidang-bidang yang bervariasi.

Cuma yang agak saya sayangkan adalah ketika kuliah dulu itu, judulnya kan mencetak para ulama. Dan bukan sembarang ulama sembarang, tetapi ulama yang punya nilai plus. Persiapannya bahasa Arabnya saja sudah dua tahun (empat semester). Masih diteruskan dengan takmili satu tahun (dua semester). Jadi kuliah tiga tahun cuma buat persiapan-persiapan doang.

Lulus Takmili baru masuk bisa mendaftar di fakultas syariah. Itu pun kalau lulus tes, atau punya nilai tertentu. Kalau tidak, silahkan pulang kampung. Tentu yang namanya mahasiswa kuliah di fakultas syariah, judulnya bukan buat keren-kerenan, juga bukan buat sekedar gagah-gagahan, atau biar punya gelar el-ce.

Judul besarnya untuk belajar menuntut ilmu-ilmu keislaman. Ragam dan cabangnya pun lengkap, ada ilmu fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, faraidh, tauhid, dan lainnya. Jumlah sksnya pun sangat banyak. Dan dosen yang ngajar pun bukan kelas kacangan, tetapi para masyaikh, doktor dan profesor dari banyak perguruan tinggi kelas dunia. Ada yang dari Al-Azhar Mesir, Sudan, Iraq, Suriah, Palestina termasuk Saudi Arabia sendiri. Bahasa pengantarnya pun bahasa Arab fushah. Lamanya 8 semester atau empat tahun.

Kalau sudah belajar susah payah lalu giliran lulus malah kerja di bidang yang lain, apa bukan sia-sia ilmunya?

Mustinya kan setidaknya jadi dosen syariah, atau mengajar mata kuliah fiqih, setidaknya jadi ustadz yang ceramah masalah ilmu-ilmu keislaman. Yang lebih bagus tentu kalau bisa menulis buku.

Jadi kuliah itu harus ada atsarnya, bukan cuma sekedar iseng-iseng berhadiah, atau cuma dari pada nganggur tidak jelas. Atau sekedar biar dapat gelar sarjana. Sarjana umum yang nganggur sudah banyak, yang bekerja bukan di bidangnya jauh lebih banyak.

Masak sih sarjana syariah latah mau ikut-ikutan nganggur dan kerja di bidang yang tidak ada hubungannya dengan yang dipelajarinya?

Alasan paling klasik biasanya adalah karena tidak tersedianya kesempatan. Atau bahasa sederhananya, tidak ada lowongan pekerjaan yang sesuai.

Tentu kesempatan dan lowongan itu bukan ditunggu datangnya, tetapi harus diciptakan dan dibuat.

*) Penulis adalah alumni LIPIA, Ketua Daarul-Uluum Al-Islamiyah, Kuningan, Jakarta Selatan