Setiap kali terlibat pengungkapan Kasus korupsi, ada saja yang angkat kembali kasus-kasus lama Novel

JAKARTA (UMMAT Pos) — Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menilai, lamanya pengungkapan kasus penyerangan Novel Baswedan berkaitan dengan sejumlah kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Dahnil, lamanya pengungkapan kasus penyerangan Novel ini bukanlah permasalahan teknis semata. Dahnil merinci, setiap kali Novel terlibat suatu pengungkapan korupsi, maka akan ada pihak-pihak yang berusaha mengangkat kembali kasus-kasus lama Novel.

“Ketika Novel mengusut kasus besar, maka serangan terhadap Novel pasti ramai. Kriminalisasi pimpinan KPK ramai. Contohnya kasus Novel di Bengkulu (saat Novel masih anggota Polri) dinaikan lagi,” kata dia.

BACA JUGA: Inilah 5 Kejanggalan Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap Novel Baswedan

Salah satu kasus lain yang disoroti Dahnil belakangan ini adalah kasus perusakan alat bukti oleh dua penyidik KPK. “Ini berkaitan dengan penyerangan Novel Baswedan,” ujar Dahnil di Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (4/11). Dua penyidik KPK, Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy dan Komisaris Harun, dikembalikan ke kepolisian pada 13 Oktober lalu.

Keduanya diduga memanipulasi barang bukti penyidikan kasus suap uji materi impor daging sapi dengan terpidana tujuh tahun, Basuki Hariman. Dahnil menduga ada benang merah dalam kasus tersebut yang juga berkaitan dengan Novel karena Novel juga mengungkap kasus yang melibatkan para petinggi negara tersebut.

Dahnil menambahkan, penyerangan terhadap Novel adalah suatu bentuk teror yang dilakukan oleh para koruptor. Menurutnya, dengan mengungkapkan kasus penyerangan ini, maka akan terbuka kasus-kasus korupsi dan dalangnya yang selama ini masih misteri.

“Kasus Novel ini kotak pandora, pelaku ditangkap, akan ada banyak yang terungkap, makanya kami minta TGPF. Ada persekongkolan paripurna di sini,” kata Dahnil.

BACA JUGA: Ditanya Soal Kasus Novel Baswedan, Jokowi: TGPF Itu Apa?

Kasus Novel saat ini berada dalam penanganan Polda Metro Jaya. Hingga kini bukti-bukti yang diperoleh polisi masih belum bisa menunjukkan titik terang pelaku penyiraman Novel. Meskipun, salah satu sketsa wajah terduga pelaku telah dibuat. Sedangkan satu sketsa lainnya masih dalam tahap penyelesaian.

Novel Baswedan mengalami penyerangan berupa penyiraman air keras berjenis Asam Sulfat atau H2SO4 pada Selasa (11/4). Sampai saat ini, pria yang menangani kasus megakorupsi KTP-el itu pun kini menjalani perawatan intensif di Singapura untuk menyembuhkan penglihatannya imbas penyerangan itu.

Sumber: Republika

PILIHAN REDAKSI