Tak disebut Teroris, Ribuan Warga Distrik Tembagapura Disandera KKB kata Polisi

JAYAPURA (UMMAT Pos) — Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Ammar beberapa kali menyebut para pelaku aksi teror yang menyandera ribuan warga sipil di sekitar Kimberly hingga Banti, Distrik Tembagapura dengan istilah kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Mantan Kadiv Humas Polri itu tidak menyebut kelompok bersenjata yang telah menyebabkan tujuh anggota Brimob terluka dan seorang diantaranya meninggal dunia itu dengan istilah teroris seperti biasanya.

“KKB saat ini menjadikan warga sipil sebagai tameng dan sandera,” katanya pada Kamis.

Merujuk defenisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik.

Baca Juga: KKB Tembaki Pos Brimob Di Tembagapura

Boy Rafli yang mengaku masih berada di Tembagapura menambahkan bahwa jumlah pelaku aksi teror tersebut sekitar 100 orang bersenjata termasuk senjata tradisional.

Satgas terpadu penanggulangan KKB terus berupaya melakukan langkah persuasif dan preventif untuk membebaskan para sandera.

“Berbagai upaya terus kami lakukan agar masyarakat bebas dari intimidasi dan ancaman dari KKB, dan dari laporan terungkap kondisi masyarakat yang dijadikan tameng KKB dalam keadaan baik hanya terintimidasi, “katanya.

Ribuan warga itu terdiri atas seribuan warga asli dan sekitar 300 warga non-Papua yang selama ini menjadi pendulang dan pengumpul emas. Kampung Kimberly dan Banti hanya berjarak sekitar 300 meter dari Polsek Tembagapura.

Menurut Rafli, warga sipil yang disandera KKB itu kini tidak diizinkan beraktivitas atau bepergian termasuk untuk membeli bahan makanan.

Sebelumnya, dikutip dari laman Antara Papua, mengabarkan aksi penembakan yang dilakukan KKB di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika, menyebabkan tujuh anggota Brimob terluka dan seorang diantaranya meninggal dunia. [fm]

PILIHAN REDAKSI