Ya Ukhti, Biar Istiqamah Hijrah di Zaman Now, Awali Dengan Ilmu!

Elok mawar bak putri bermahkota
Segar nan wangi menawan kumbang
Sayang durinya dipatah nafsu nan bertahta
Akhirnya pasrah, layu di padang terbuang

SAAT beranjak dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya tak jarang kita bersua, tegur dan sapa dengan saudari kita. Di antara mereka ada yang terpancar rasa percaya dirinya dari hijab ‘modis’nya. Kebahagiaan atas anugerah ilahi padanya pun disyukuri dengan upaya menambah pesona diri.

Si kotak ajaib yang menarik jutaan pasang mata berbagi alamat tempat tato alis. Ada lagi, sulam bulu mata hingga sulam bibir agar merona, tersaji apik diperagakan para model yang sudah lulus casting.

Tak ketinggalan jeda iklan yang tak putus asa menjajakan Parfum limited edition yang ‘wow, kekinian banget’ itu. Dengan ini semua, wanita akan semakin percaya diri, begitu kata produsennya.

Masih di depan layar kaca, saya dan anda mungkin sepakat, kita tak suka berlama-lama mendengar kisah korban kekerasan akibat perbuatan nista di layar yang sama. Kejahatan itu terjadi adalah akibat kelalaian mereka. Kita pun seolah sepakat lagi, pasti ada sebabnya.

Dasar, si lelaki durjana di luar sana, kata sebagian saudari kita. Merekalah yang bermasalah, bukan kita. Kita tak ada niat untuk mereka, sebegitunya mereka tergoda lalu berbuat jahat. Itu salah dia.

Kenapa harus kita yang disalahkan?

Sebagian lagi ada yang mau berhenti sejenak. Sebagian kaum hawa ada saja yang jujur dengan hatinya, sportif mengakui kecenderungan kaumnya sebagai biangnya.

Tapi yang jelas ini bukan tentang anda. Bukan saya, dan amit-amit! Eh, Na’udzubillah jika kejahatan itu sampai menimpa diri dan sekitar kita.

Kita juga ingin berubah lebih baik, tapi mungkin nanti. “Pelan-pelan kenapa?!” Jangan tanya sekarang soal kapan? “Nanti saja :P.”

Toh kita tak anti dengan petuah dalam nan bermakna. Sampaikan saja baik-baik. Kita semua butuh proses. Ya, Kita semua sedang berproses.

Ya ukhti, kita tahu, dalam perubahan dan memperbaiki diri itu butuh proses. Akan tetapi jangan pernah lupa fokuslah, hijrah kita ini karena Siapa?

Islam telah memuliakan wanita, Allah yang Maha Lembut, Maha Memahami kita sebagai ciptaanNya. Lewat ayat-ayat cintaNya, Dia, Subhanahu Wa Ta’ala memberikan panduan bagaimana menjaga diri dari hal-hal yang menjatuhkan kemuliaan kita. Agama ini sejatinya mengangkat derajat kita melalui syariatNya. Namun, mengapa? Justru kitalah yang telah merendahkan diri kita sendiri?

Hijrah dalam identitas ke-Islaman memang tak hanya sebatas kain penutup kepala, tidak cukup dengan semangat mengganti isi lemari kita yang dulunya celana sekarang menjadi gamis. Bukan soal menunggu kesiapan hati, tapi hijrah kita membutuhkan ilmu, namanya Ilmu Syar’i!

Berhijrah tanpa bekal ilmu, tentulah jauh berbeda bagi kita yang berhijrah dengan didahului mempelajari ilmu. Sebab ilmulah yang menjaga kita. Ilmu sejatinya tak mencekik hingga mematikan potensi hawa nafsu dan keinginan-keinginan, namun dengannya kita terbimbing untuk menyalurkannya atau belajar mengendalikannya agar tak liar dan membahayakan.

Tak hanya itu, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu.” Demikian penggalan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat nabi yang mulia, Abu Darda radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya).

Bahkan lanjutan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud menyebutkan, “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” (lihat (HR. Abu Daud no. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam proses hijrah dan berhijab ini marilah kita berhias dan memperkaya diri dengan ilmu. Sebab Allah berfirman dalam ayat cintaNya:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوْا مِنكُم وَ الَّذِينَ أُوتُوا اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. [QS al-Mujadilah/ 58/ 11].
Oiya shabat Muslimah, di bagian ini saya ingin mengajak untuk kita sama-sama menyimak dan menelaah sejenak hadits berikut.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan harumnya surga, padahal bau harum surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Wanita berpakaian tapi telanjang, kata Ustadz, merekalah wanita yang mengumbar aurat meskipun berpakaian, berpakaian tipis transparan, atau ketat membentuk lekuk tubuh.

Adapun soal penggunaan parfum dan wewangian, menurut hemat saya, jika parfum dengan wangi sedikit/samar atau untuk sekadar menetralkan bau, (misalnya: deodoran), maka boleh. Selain itu, jika untuk suami, bagi mereka yang telah menikah tentu saja dipersilakan berwangi seharum mungkin, hal ini tentu saja bisa melanggengkan kasih saying di antara mereka dengan catatan tidak mendatangkan fitnah (ujian) bagi orang lain.

Agama kita, Islam yang paripurna bahkan telah mengatur hingga pada persoalan parfum ini.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Catatan penting lainnya, bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah parfum untuk keluar rumah dan laki-laki bisa mencium wanginya dan bisa membangkitkan syahwat laki-laki.

Semoga Allah membuka dan membimbing kita untuk segera melakukan perbaikan setelah bertaubat kepadaNya, dan selanjutnya mencegah kita menjadi sumber dosa bagi lingkungan.

Oiya, sahabat Muslimah, berdasarkan keterangan di atas, jangan ragu untuk mengatakan bahwa apa yang diistilahkan Jilboobs jelas adalah pakaian yang terlarang bagi wanita untuk dikenakan di hadapan lelaki yang bukan mahram.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan goresan pengalaman spiritual pribadi ini tentu saja tidak bermaksud menggurui, benar-benar hanya ingin sharing aja 🙂

Semoga Allah mudahkan kita atas segala niat yang telah diluruskan hanya karenaNya. Jadikan setiap detik, setiap langkah hijrah kita dalam menutup, menjaga aurat berpahala sebab kita menunaikannya karena kita faham ilmunya. Aamiin. Wallahu A’lam.

By: Ummu Maryam

 

PILIHAN REDAKSI