Awas, Sejumlah Objek Pariwisata di Tanah Air Rawan Jadi Target Eksplotasi Seksual Anak

JAKARTA (UMMAT Pos) — Sebuah hasil observasi mengungkap fenomena ekspolitasi seksual terhadap anak di sekitar wilayah objek pariwisata di tanah air.

Berdasarkan hasil pemetaan End Child Prostitution Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purposes ECPAT mencatat sepanjang 2010-2015, terdapat 185 terpidana kasus eksploitasi seksual anak di wilayah pariwisata.

Secara khusus ECPAT Indonesia juga melakukan riset empat wilayah pariwisata yang ramai di Indonesia, yaitu Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan Kabupaten Karangasem, Bali.

Dari laporan tersebut, terungkap lima macam fenomena pariwisata seks anak di Indonesia, meliputi prostitusi anak, prostitusi melalui daring, pedofilia, kawin kontrak dan fenomena kopi pangku seperti yang ditemui di Kalimantan Barat.

“Destinasi seks anak tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia,” kata Program Manager ECPAT Indonesia, Andy Ardian pada Kamis.

Praktek prostitusi dengan dalih kawin kontrak di Indonesia terjadi di kawasan Cisarua dan Puncak, Bogor. Sejak tahun 1992, ujar Andy, wisatawan laki-laki asal Timur Tengah seperti Iran dan negara lainnya banyak mengunjungi tempat ini dan melakukan kawin kontrak dengan anak di bawah umur untuk tujuan prostitusi.

Sedang fenomena kopi pangku merujuk pada laki-laki yang memangku anak usia 12-15 tahun sambil menikmati kopi di pinggir jalan. Warung ini buka di atas pukul 10 malam.

Sebelum berkunjung ke Indonesia, menurut Andy, pelaku eksploitasi anak lebih dulu mengunjungi laman maya untuk mengumpulkan informasi soal jasa seks dan adakah target anak di tempat wisata yang akan dikunjungi.

Mereka memperoleh informasi tersebut melalui grup Facebook, WhatsApp, Instagram dan Telegram. Berupa jenis layanan, foto dan identitas anak.

“Media sosial menjadi sumber informasi atau sarana komunikasi pembuka,” ujar Andy pada Kamis di jakarta.

Riset di atas menyebutkan bahwa keempat wilayah tersebut tak luput dari aksi kekerasan seksual yang dilakukan oleh pengunjung wisata.

Anak-anak di wilayah tersebut, ujar Andy, bekerja di tempat hiburan, karaoke, pub, panti pijat dan pusat pelacuran.

Sayangnya, kata Andy, tak semua wilayah di Indonesia siap dengan dampak buruk pariwisata ini.

Dari keempat kabupaten yang diriset, hanya dua kabupaten yang memiliki Perda Perlindungan Anak, yaitu Yogyakarta dan Bali.

“Pemerintah daerah umumnya belum memiliki kesadaran soal perlindungan anak,” kata dia.

Sementara itu, menurut Kepala Program Eksploitasi Seksual Anak di Destinasi Pariwisata ECPAT International Gabriel Kuhn menekankan pentingnya Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk menghapus eksploitasi seksual anak.

RAN akan memetakan persoalan, solusi, masing-masing penanggung jawab sekaligus sumber anggaraan penghapusan eksploitasi seksual anak.

Rencana aksi ini beriringan dengan monitor implementasi RAN yang akan mengawasi sejauh mana program berjalan.

“Monitor ini penting, tanpa monitoring RAN hanya akan jadi dokumen indah tanpa peran apa-apa,” kata dia.

Andy mengatakan pada 2004 Indonesia memiliki dua RAN terpisah, yaitu RAN penghapusan eksploitasi seksual anak dan RAN trafficking. Tahun 2008, kedua RAN ini digabungkan.

Sayangnya sejak 2012 Indonesia menghapus muatan eksploitasi seksual anak, kini hanya terdapat RAN soal anti perdagangan anak.

“Itu artinya eksploitasi seksual anak tidak menjadi prioritas spesifik,” kata dia.

Gabriel mengatakan di sejumlah negara pelaku pedofilia mendapatkan hukuman ganda, dari negara asal dan negara lokasi kejadian. Namun hukuman ini akan dilakukan jika terdapat kesepakatan bilateral menyoal penghapusan eksploitasi seksual terdapat anak.

Di Australia, kata Gabriel, pelaku kejahatan seksual dengan korban lebih dari satu anak akan memperoleh hukuman berlipat sesuai jumlah korban.

Di negara seperti Amerika malah memiliki daftar pelaku kejahatan seksual. “Orang-orang yang masuk daftar ini tidak boleh bekerja di tempat yang ia harus berinteraksi dengan anak, bahkan tidak boleh keluar dari negara tersebut,” pungkasnya. [fm/aa]