Tujuh Bulan Berlalu, Tak Ada Kemajuan Pengusutan Pelaku Penyiraman Novel

JAKARTA (UMMAT Pos) — Meskipun Polda Metro Jaya telah merilis dua terduga pelaku penyerangan penyidik KPK, namun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan atas penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan di kediamannya di wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

“Itu menunjukkan fakta bahwa banyak kejanggalan dari proses penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan sekaligus membuktikan pentingnya dibentuk TGPF,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, Sabtu (25/11).

Dahnil menyesalkan, aparat kepolisian lambat dalam menangani kasus penyiraman air keras terhadap Novel, lantaran selama 226 hari polisi baru bisa memublikasi sketsa dua terduga pelaku penyerangan Novel.

“Sketsa itu sudah dipublikasi dan dimuat oleh salah satu koran dan majalah nasional sejak 1 Agustus 2017 lalu, wartawan lebih cepat menghasilkan sketsa tersebut dibandingkan polisi,” sesal Dahnil.

Dahnil menilai, sketsa yang dirilis oleh Polda Metro Jaya berbeda dengan sketsa yang disampaikan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat dipanggil Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

“Apakah yang dimaksud dengan perkembangan baru adalah perbedaan itu, kenapa bisa berbeda itu justru menjadi pertanyaan besar,” ungkap Dahnil.

Dahnil menduga, salah satu sketsa yang dirilis oleh Polda Metro Jaya di gedung KPK kemarin, terdapat salah satu terduga yang sempat diperiksa oleh polisi. Namun karena masih alibi, maka yang bersangkutan dilepas oleh polisi.

Sehingga berkaitan kasus Novel Baswedan yang belum juga dapat ditemukan pelakunya, Dahnil menginginkan dapat dibentuknya TGPF untuk kasus penyerangan penyidik senior KPK tersebut.

“Perkembangan positif akan signifikan membuka fakta, apabila dibentuk TGPF. Dari kejanggalan-kejanggalan cara kerja polisi tersebut, kami khawatir kasus ini justru akan semakin kabur,” pungkasnya. [fm/jpnn]

PILIHAN REDAKSI