UMMATPOS.COM
Kabar Ummat Terdepan

Hijrah tidak pernah mendustai usaha

KEHIDUPAN tidak akan pernah berjalan mulus. Angan yang tercipta dibenak tidak semuanya diberikan-Nya. Ada waktunya yang tidak diinginkan akan diberikan-Nya. Pilihan yang tak pernah dipilih menjadi hal wajib dipilih. Terasa istimewa sekali jika memasuki takdir dan garis hidayah-Nya. Pikiran yang terus berorientasi dengan hal duniawi membuatku banyak belajar bahwa dunia tidak sama dengan akhirat.

Hijrah tidak pernah berbohong dengan usaha manusia. Perjalanan yang berat terasa saat harus memilih menjadi lebih baik. Perubahan itu bahkan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Kain penutup wajah itu kini terpakai di wajah ini. Jilbab yang tak biasa panjangnya kini terpakai pula olehku.

Semakin beralih pikiranku, kini kusadari ternyata keilmuwanku atas pelajaran agama sangat minim sekali. Banyak hal yang tidak kuketahui dan membuatku harus terus belajar. Di dunia perkuliahan, aku mulai berpikir untuk menggunakan niqab. Selagi aku masih ada umur, kenapa harus menunda? Padahal ibadah tidak bisa disangkutpautkan dengan masalah duniawi.

Dunia kampus yang kumasuki bukanlah kampus Islam bahkan tidak kutemukan satu pun akhawat yang menggunakan niqab. Bagiku sepertinya akan sulit jika ada akhawat yang berniqab di kampus. Apa lagi para dosen yang mengajar akan terasa risih ‘mungkin’ melihatnya.

Ketika semester satu, ada seorang temanku yang bertanya padaku mengenai niqab. Fulanah menanyakan niatku tentang berniqab maka kujawab “ingin sekali menggunakannya”. Sontak dia kaget dengan keinginanku tersebut. Dari jawabanku muncullah pertanyaannya yang banyak dari lisannya. Pelan-pelan tapi pasti, kujawab sebatas kadar ilmuku saja. Di hari yang lain ia bertanya lagi mengenai hal tersebut maka kujawab pun sebisanya.

Aku mengerti keadaan temanku masih dalam tahap belajar agama, rasa sedih yang kurasakan tetap kusimpan agar tidak menjadi hal buruk baginya. Padahal pertanyaannya selalu menyudutkanku.

Dari dulu aku memang selalu menutupi wajah dengan masker. Mau keluar kelas pun masker selalu kupakai. Entah, saat itu aku sudah merasakan malu luar biasa jika wajahku terlihat.

Pernah suatu ketika, aku lupa memakai masker. Matahari yang terik menyinari wajahku saat itu. Posisiku pun tidak di dalam rumah, sebenarnya dari dulu aku selalu takut jika keluar rumah apa lagi jika sudah memasuki dunia kampus. Entah, perasaan was-wasku selalu muncul jika sudah di tempat umum tersebut. Banyak laki-laki saat itu yang lewat dan berada disekelilingku. Rasanya ingin terbang pergi jauh ditempat yang banyak laki-laki berada. Setiap kali bertemu dengan satu laki-laki ataupun lebih, aku lebih memilih diam ditempat dan bersembunyi. Efek yang timbul dari banyaknya belajar agama membuatku menjadi aneh sendiri. Dalil yang menjelaskan tentang wanita dan fitnah membuatku banyak berubah, malu yang biasanya biasa saja kini menjadi keterlaluan rasanya.

Rasa keinginanku untuk pakai niqab tak terbendung. Seminggu di rumah membuatku menjadi malas keluar. Kuputar semua pemikiranku, resiko dan untung dari menggunakan niqab telah kupikirkan baik-baik. Mau jodoh atau pun rezeki jauh bukanlah hal utama bagiku. Banyak di luar sana orang memandang hal tersebut sebagai penghambat rezeki. Padahal Allah telah jelas mengaturnya sedemikian baiknya. Aku tidak mau dunia mengikat semua keinginanku dalam hal kebaikan, bukankah Allah tidak pernah memuji dunia sekalipun? Lalu kenapa harus menjadi anak dunia padahal bukan ia tempat kembali.

Setelah UTS selesai, aku mulai menggunakan niqab tersebut. Para pandangan mulai menusukku satu per satu. Perkataan yang jelek kini kuterima pelan-pelan. Manusia dan lingkungan kini menjauhiku serentak. Aku semakin sedih dan merasa semakin sendiri. Hanya keluargaku rasanya yang mau menerima pilihanku ini.

Namun, Allah Maha Baik. Dia kirimkan ganti semuanya dari lingkungan dan teman yang kini sangat mendukung. Sudah hampir dua tahun aku dengan pakaian seperti ini.

Jika hijrah dilandasi karena Allah semata semua akan terasa ringan dijalani. Hidup bukan hanya untuk masalah duniawi, ada di mana kelak kita kembali menghadap dengan pertanggunganjawaban kelakuan selama ini. Jika harus terus memupuki pekerjaan dunia rasanya sedih sekali jika kembali tanpa persiapan. Ketaatan kita dalam aturan Islam bukanlah pemicu hilangnya rezeki. Bukankah Rasulullah sendiri mengatakan “Barangsiapa yang mengejar akhirat maka dunia akan datang padanya dengan keadaan terhina.”

Simpanlah dunia di tanganmu jangan dihatimu. Biarkanlah dunia bermain dijemari kita, lupakanlah semua angan dari janji manisnya. Sungguh, dunia sangat halus menusuk hati. Tidak ada tempat kembali yang paling indah kalau bukan surga. Jangan menunggu menjadi baik karena kebaikan tak bisa ditunggu. (Amy)

PILIHAN REDAKSI