Kini sudah ada terjemahan Al-Quran bahasa Banjar

BANJARMASIN (UMMAT Pos) — “Kitab ini kadada karaguan di dalamnya, patunjuk gasan buhannya nang batakwa.” Begitulah kutipan terjemahan dalam halaman pertama Surat Al Baqarah.

Berawal dari tawaran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada 2016. Begitu disanggupi, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora segera membentuk tim. Penerjemahan mulai dikerjakan sejak zaman rektor terdahulu, Fauzi Aseri. Gabungan dari pakar tafsir Alquran, pakar hadits, dan pakar filsafat bahasa. Ditambah pakar budaya dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Zulkifli.

Mereka dibagi tiga tim. Tim penanggungjawab, tim penerjemah dan tim penanggap ahli. Mujiburrahman kebetulan anggota tim yang terakhir. “Paling berat di awal, penerjemahan belum dimulai, kami sudah berdebat keras. Bahkan mendekati pertengkaran,” kenangnya.

Sebelum memulai penerjemahan, tim harus lebih dulu menyepakati. Bahasa Banjar versi apa yang hendak dipakai? Apa saja referensinya? Dus, metodologi model mana yang dijadikan acuan?

“Kami akhirnya memilih versi Hulu, bukan versi Kula. Bahasa Banjar kontemporer juga kami tolak,” imbuhnya. Referensinya Kamus Bahasa Banjar-Indonesia karya Abdul Djebar Hapip. Ditambah karya-karya klasik Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al Banjari yang ditulis dalam aksara Arab Melayu.

Penerjemahan mengacu Alquran dan Terjemahnya dalam Bahasa Indonesia terbitan resmi Kementerian Agama. Perdebatan panjang muncul ketika membahas metodologi. Mujiburrahman lalu mengajukan gagasan.

Penerjemah harus mencari padanan kata dalam Bahasa Banjar. Jika tak ketemu, boleh beralih pada Bahasa Melayu. Jika mentok juga, barulah mem-Banjar-kan kosa kata Bahasa Indonesia. “Ibaratnya, penerjemah mencari kata 24 karat dulu. Yang orisinil. Kalau mandeg, baru boleh memakai yang KW,” ujarnya tergelak.

Begitu penerjemahan dimulai, belum apa-apa tim kembali berdebat sengit. Padahal baru menghadapi ayat pertama dalam surat Al Fatihah. “Jadi baru bismilah kita berdebat lagi, lama banget,” imbuhnya tertawa.

Dalam terjemahan Indonesia, ada kata-kata ‘maha pengasih dan maha penyayang’. Tim kebingungan mencari padanan yang pas untuk kata ‘maha’. “Sempat dicoba pakai kata ‘liwar’. Kalau dibaca ‘yang liwar pengasih dan liwar penyayang’. Kok terasa ganjil,” jelasnya. Akhirnya, setelah perdebatan hingga tengah malam, tim memutuskan kembali dengan kata ‘maha’.

Tak kalah merepotkan soal kata ganti. Dalam Bahasa Arab, ada kata tunjuk ‘antum’. Artinya ‘kamu’ untuk perorangan atau ‘kalian’ untuk jamak. Bahasa Banjar punya ‘ikam’ atau ‘bubuhan’. “Terdengar kasar, lalu diganti ‘Pian’ demi estetika. Nah, baru kata ganti saja tidak mudah,” bebernya.

Contoh, kata yang kemudian di-Banjar-kan adalah ‘berfirman’ menjadi ‘bapirman’. Sebab Urang Banjar tidak mengenal huruf vokal E. Hanya ada A, I dan U. Serupa halnya dengan huruf konsonan F yang dirasa asing.

Alquran dengan terjemah bahasa daerah sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia sudah ada 12 terjemahan serupa. Menyusul terjemahan dalam Bahasa Bali, Ambon dan Banjar yang diluncurkan Kemenag pada 20 Desember tadi.

Dari cerita yang dituturkan Balai Litbang Kemenag, sejujurnya penerjemahan versi Banjar jauh lebih ringan. “Lebih rumit Jawa, karena bahasanya bertingkat-tingkat, Ngoko dan Krama. Banjar juga dekat sekali dengan Melayu, pondasi Bahasa Indonesia. Kita masih lebih beruntung,” ujarnya.

Ketika kabar ini menyebar via media sosial, lumrah jika ada protes. Sebagian netizen menangkap kesan geli atau bahkan kasar dari terjemahan ini. Bahkan, menuntut terjemahan ini sebaiknya jangan dipasarkan.

Namun, Mujiburrahman punya argumen. Pertama, demi pelestarian bahasa. “Ini bahasa ibu kita, kenapa harus malu? Kalau Anda mengigau, pasti kalimat yang keluar dalam bahasa ibu. Bukan bahasa nasional. Boro-boro bahasa internasional seperti Inggris,” tegasnya.

Kedua, ia menilai sosok Guru Sekumpul, Guru Bakeri dan Guru Zuhdi memperoleh banyak pendengar karena berceramah dalam daerah. Mereka juga terkenal senang melempar guyonan khas Banjar. “Kiai-kiai top kita pakai Bahasa Banjar. Karena lebih mengena di hati masyarakat,” tukasnya.

Ditanya kapan Alquran ini dijual bebas di pasaran, ia mengaku belum tahu. Sebab, versi awal dicetak terbatas, UIN sendiri hanya kebagian 15 eksemplar.

Mujiburrahman berniat melobi Kemenag. Agar sebelum dicetak ulang untuk dipasarkan, sampulnya harus didesain ulang. “Taruhlah dengan warna kain Sasirangan, agar lebih Banjar,” ujarnya tersenyum.

Ia juga mengidam-idamkan agar hasil penerjemahan ini tersedia dalam format digital. Serupa aplikasi yang bisa diunduh secara gratis via Playstore atau laman situs UIN. [fm/prokal]