Akidah dan ubudiyah adalah tujuan, kekuasaan adalah salah satu sarana penunjang penting

KONTROVERSI panjang antara akidah dulu atau khilafah dulu, ternyata bukan sekedar urusan memprioritaskan salah satunya semata, namun ternyata banyak saudara kita yang sering kelewat batas, hingga saling menafikan dan mencibirkan.

Andai masing masing berpikir rasional dan obyektif niscaya mudah sampai pada titik temu.

Akidah dan ibadah adalah tujuan utama hidup manusia, sedangkan kekuasaan adalah salah satu aspek penunjang, atau biar anda lego bin puas salah satu aspek penunjang pueenting bagi terlaksana dan sempurnanya tauhid dan ibadah.

Jadi masing masing harus didudukkan pada posisinya yang proporsional bin benar.

Sebagaimana bentuk kemalasan berpikir bila kita lebih senang membenturkan dan saling menafikan, seakan akan tidak bisa dan tidak mungkin bisa disandingkan.

Menempuh skala prioritas dalam berdakwah atau beramal bukan berati alasan untuk menafikan yang lain.

Kekuasaan penting karena Islam memang telah dipilih untuk lebih tinggi dan mulia dibanding agama lain, sebagaimana ummat Islam juga telah dipilih untuk menjadi pemimpin di muka bumi.

Namun perlu dicamkan bersama bahwa kepemimpinan yang dimaksud bukan sekedar jadi raja dengan apapun cara dan perundangan yang diterapkannya. Memimpin yang dimaksud adalah memimpin makhluk penghuni bumi untuk menyembah Allah semata dan menegakkan syari’at-Nya, sehingga semua manusia tunduk kepada syari’at-Nya.

Bila keduanya akidah dan ibadah belum maksimal diamalkan dan kepemimpinan juga belum dimiliki, sehingga anda harus memprioritaskan akidah dan ubudiyah, bukan berarti anda boleh mencibirkan peran kepemimpinan bila benar benar ada peluang untuk mendapatkannya dan menjadikannya sarana untuk menyebarkan akidah dan ubudiyah yang benar.

Dahulu Nabi Yusuf A’laihissalam walau pemerintahan yang berkuasa kala itu adalah pemerintahan thoghut bin kafir, namun demikian beliau memanfaatkan kesempatan menjadi pejabat untuk mendakwahkan akidah dan ubudiyah kepada Allah semata.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga demikian berusaha mencari dukungan para pemimpin kabilah, agar beliau lebih leluasa dan maksimal dalam mengajarkan akidah dan ubudiyah kepada Allah semata.

Banyak upaya yang beliau lakukan untuk mendapat dukungan pemimpin kabilah kabilah yang ada kala itu, hingga akhirnya mendapat dukungan dari dua kabilah utama di kota Madinah, yaitu Aus dan Khazraj.

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab memanfaatkan kesempatan bekerjasama dengan Pangeran Muhammad bin Suud untuk mendakwahkan akidah dan ubudiyah, walau kala itu sang pangeran bersyarat agar tetap diizinkan memungut upeti (pajak) dari rakyatnya, dan hasilnya ruuuuar biasa.

Sobat, ayo mulai menata ulang tentang cara pikir dan sikap kita yang selama ini lebih suka untuk membenturkan kedua urusan ini menjadi pola pikir yang lebih proporsional dan konstruktif; akidah dan ubudiyah adalah tujuan, kekuasaan adalah salah satu sarana penunjang puentiiing. Sehingga ndak perlu memandang sebelah mata peran kekuasaan atau saudara saudara kita yang punya akses untuk sampai ada kekuasaan.

Dan anda yang merasa memiliki akses ke jabatan, yuk tingkatkan belajar akidah dan ubudiyah yang benar, agar ketika benar benar telah menjabat anda tahu arah, apa yang harus anda prioritaskan untuk diperjuangkan dengan jabatan anda.

Wallahu Ta’ala a’lam bisshawab.

Oleh: Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri

Dari tulisan beliau di akun Facebooknya berjudul: Biang kesesatan dalam urusan kekuasaan atau khilafah

PILIHAN REDAKSI