Psikolog Ini Berbagi Tips Menjawab Soal Pornografi ke Anak Usia SD

JAKARTA (UMMAT Pos) — Bunda atau Ayah pernah nggak sih merasa bingung gimana ya menjelaskan soal pornografi kalau anak menanyakan ini?

Bicara soal pornografi, risiko anak terpapar konten tersebut ada di mana-mana. Terlebih kalau anak usia sekolah dasar atau SD sudah ‘fasih’ menggunakan gadget. Sebagai orang tua di zaman now, perlu lebih bijak dan cerdas menyikapinya.

Nah, kalau Bunda dan Ayah bingung, tips dari psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo yang akrab disapa Anas ini tak ada salahnya dicoba. Ketika anak bertanya soal pornografi, katakan kalau konten itu belum sesuai dengan pemahaman mereka karena kontennya untuk orang-orang 17 tahun ke atas. Apalagi, tayangan atau konten yang dilihat anak selayaknya disesuaikan dengan umur mereka.

“Soal bahaya pornografi, penjelasan yang bisa dikasih ke anak SD salah satunya sama aja kayak kenapa kita nggak bisa melihat adegan kekerasan. Karena habis ngelihat konten kayak gitu, kita bisa shock, takut dan jadi kepikiran,” kata Anas seperti dikutip haibunda.com.

Kepikiran di sini maksudnya, anak bisa kepikiran antara takut melihat konten tersebut tapi di sisi lain juga penasaran ingin melihat itu. Alhasil, anak cuma fokus sama hal itu.

Hmm, lalu bagimana kalau anak bertanya soal orang yang tanpa busana alias telanjang dalam konten tersebut?

“Kita bisa jelaskan, ke anak usia sekolah dasar kalau kita lihat orang lain dalam keadaan telanjang, itu bisa memengaruhi cara kita melihat orang lain dan efeknya nggak bagus,” tutur Anas.

Penjelasan soal pornografi sebetulnya bisa dimulai dengan memberikan edukasi seks sejak dini ke anak, salah satunya lewat pengenalan anggota tubuh. Di umur 4 tahun, anak mulai diajarkan good touch dan bad touch termasuk siapa yang boleh menceboki dia, memegang alat kelaminnya, terus kapan anak boleh buka baju plus siapa yang boleh melihat.

Kata Anas, kalau konsep itu udah dipupuk dari kecil, saat SD anak tahu kalau memperlihatkan atau melihat alat kelamin adalah hal yang nggak semestinya dilakukan. Soalnya, anak bisa berpikir kalau dia tidak boleh memperlihatkan bagian pribadi tubuhnya berarti anak juga tidak boleh melihat area pribadi (aurat) milik orang lain. (fm/haibunda)