Gulai Kambing Khas Padang Untuk Pengungsi Rohingya

(Catatan Perjalanan NGO ONECARE di Kamp Pengungsian, Cox’s Bazar)

“PISAU? Itu bukan sesuatu yang berharga untuk kami selamatkan”

Itulah kalimat yang keluar dari mulut muslim Rohingya saat relawan ONECARE menanyakan apakah tidak ada pisau yang bisa digunkan untuk proses penyembelihan. Ya, hari ini, ONECARE melaksanakan program makan bersama anak-anak Rohingya di Kamp Pengungsian Gundum 2 Cox’s Bazar, Bangladesh.

Dua ekor kambing telah disiapkan untuk dibuat gulai cincang khas Padang. Tapi, ada yang tak biasa dalam proses penyembelihan. Nasril, relawan ONECARE yang berasal dari Padang menjadi eksekutor untuk kambing pertama. Kepada penterjemah dia berkata, “Saya butuh pisau yang tajam untuk menyembelih bukan parang”. Pada saat itu, pengungsi hanya memberikan parang kepadanya.

Penterjemah yang mendampingi kami lantas meminta pisau kepada pengungsi. Tapi apa kata mereka? “Maaf, kami hanya punya itu (parang). Kami tak punya pisau. Pisau bukanlah sesuatu yang berharga yang harus kami selamatkan”. Jawaban itu sangat mengejutkan saya. Bagi saya, sungguh kalimat itu banyak menyimpan duka dan kesedihan yang mendalam.

Maka jadilah parang digunakan untuk penyembelihan, pengulitan hingga dipotong menjadi bagian bagian kecil yang akan dimasak menjadi cincang kambing.

Hari ini, Rabu 10 Januari 2018, 2 orang relawan ONECARE bertolak ke Kamp. Pengungsian muslim Rohingya di Gundum 2 Coxs Bazar Bangladesh. Perjalanan di pagi hari cukup lancar mengingat kebiasaan masyarakat di kota ini dimulai pukul 9 atau 10 pagi.

Pukul 11.50, relawan tiba di lokasi yang dituju. Program ONECARE hari ini adalah menyediakan makanan Gulai Cincang Kambing. (fm)

 

PILIHAN REDAKSI