Kondisi Puskesmas di Asmat, Tenaga medis kurang, kepala puskesmasnya bukan dokter

JAKARTA (UMMAT Pos) — Jumlah warga di Kabupaten Asmat, Papua yang menderita gizi buruk diperkirakan mencapai 15 ribu orang.

“Yang mengalami gizi buruk, kurang lebih 10 ribu orang hingga 15 ribu orang,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta, Rabu.

Menurut dia, gizi buruk yang dialami masyarakat di Asmat disebabkan beberapa faktor di antaranya minimnya sarana kesehatan seperti puskesmas dan taraf perekonomian masyarakatnya yang rendah.

Boy pun menggambarkan minimnya kondisi puskesmas yang ada di Asmat. “Tenaga medis kurang, kepala puskesmasnya bukan dokter,” katanya seperti dikutip Antara.

Sementara itu, Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) Tentara Nasional Indonesia Mayjen TNI dr Ben Yura Rimba, MARS, menyebut kendala para personel di lapangan adalah sarana transportasi dan komunikasi, karena sarana yang ada di pos-pos itu sudah pasti sangat terbatas termasuk masalah fasilitas internet dan telepon. “Kalaupun ada, itu adalah tempat-tempat tertentu pada malam hari dan pada saat lampu hidup. Kendala-kendala itulah yang paling utama,” ujarnya.

Pihak Kapolda Papua sendiri kata Boy Rafli Amar telah meminta Pusdokkes Mabes Polri untuk mengirimkan sejumlah dokter untuk ditempatkan di puskesmas-puskesmas di Asmat.

“Program dokter muda, dokter magang diharapkan bisa hadir di Papua sehingga bisa mengisi pos yang kosong terutama kepala puskesmas,” katanya.

Namun menurut Mayjen TNI dr Ben Yura Rimba, dari segi sumber daya manusia, Satgas Kesehatan TNI dan Kemenkes RI telah membawa dokter-dokter spesialis dan tim medis yang cukup lengkap termasuk obat-obatan dalam kuantitas yang cukup banyak dari Jakarta.

Sejumlah Personel Satuan tugas Kesehatan dari TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) bersama-sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat memberikan pelayanan medis di lapangan kepada warga, dengan memasuki kampung-kampung terpencil yang berada di Kabupaten Asmat, Papua, sejak Sabtu (20/1/2018) waktu setempat.

Lebih lanjut Kapuskes TNI Mayjen TNI dr Ben Yura Rimba menjelaskan bahwa permasalahan utama yang menjadi kendala dalam pergerakan personel Satgas Kesehatan TNI dan Kemenkes RI ke kampung-kampung terpencil adalah masalah transportasi, karena untuk masuk ke Timika sendiri sudah cukup jauh apalagi ke distrik atau kampung di Kabupaten Asmat.

“Masuk ke distrik atau kampung di Kabupaten Asmat yang tersebar itu menggunakan transportasi khusus dan jarak kampung yang ditempuh paling dekat sekitar 1 jam dengan speed boad, sementara distrik-distrik lainnya ada yang 6 sampai 8 jam perjalanan. Hal ini, tentu akan banyak sekali menguras tenaga dan biaya,” ungkapnya seperti dikutip dari laman tni.mil.id.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Kampung Ewer Distrik Agats Kab. Asmat, Samuel Yoyi mengatakan bahwa masyarakat Kabupaten Asmat merasa senang sekaligus berterima kasih dengan kehadiran Satgas Kesehatan TNI. “Dengan kehadiran TNI, masyarakat Asmat yang mengalami wabah penyakit sangat terbantu,” ucapnya.

Selanjutnya, Samuel Yoyi menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat di daerah Kabupaten Asmat adalah bercocok tanam, nelayan dan mencari sagu untuk di makan serta di jual untuk dibelikan beras buat kehidupan sehari-hari. “Saat ini kesehatan masyarakat banyak yang terganggu, sehingga sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian di wilayahnya. Oleh sebab itu, kami senang dengan kehadiran tim kesehatan dari TNI,” ungkapnya.[fm]

 

PILIHAN REDAKSI