Tanggapi Kunjungan Presiden Ke Afghanistan, Fahri Hamzah: tidak perlu ada dramatisasi

JAKARTA (UMMAT Pos) — Menanggapi kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Afghanistan yang sedang dilanda konflik, pada Senin (29/1) kemarin, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bercerita tentang presiden-presiden Indonesia sebelumnya yang pernah singgah ke daerah konflik.

Fahri mengatakan, Soekarno kerap memberikan kritik keras terhadap negara barat. Tapi, sang proklamator, kata Fahri, biasa saja hilir mudik ke negara Barat.

“Padahal dengan pidato-pidatonya dan politik luar negeri Indonesia, dia sebetulnya menciptakan banyak musuh di luar negeri,” kata Fahri dalam pesan singkat, Selasa (30/1).

Cerita lainnya, Presiden kedua Soeharto yang membantu rakyat Bosnia dalam perang di Balkan. Bahkan, perang yang terjadi sekitar tahun 1995 itu, Soeharto mengirim bantuan senjata kepada penduduk muslim di Bosnia melawan penjajahan yang dilakukan oleh Serbia.

“Pak Harto dulu menyelundupkan senjata ke Bosnia untuk membela masyarakat muslim Bosnia dalam perang Balkan, mantan Yugoslavia melawan Serbia yang melakukan genosida. Lalu Pak Harto terbang ke sana dalam suasana belum aman dan beliau membangun masjid di Bosnia,” kata politikus asal NTB itu.

Menurut Fahri, semenjak era Soekarno dan Soeharto, tak ada lagi negara yang bermusuhan dengan Indonesia. Apalagi, kata dia, posisi politik Indonesia yang tak jelas di luar negeri.

“Karena umumnya rata-rata mereka (presiden setelah Sokarno dan Soeharto), orang yang lembek dan tidak punya politik luar negeri yang jelas, dalam hal ini saya tidak menyebut satu dua presiden, ringkasnya sebetulnya tidak ada ancaman apapun di luar negeri bagi pemimpin-pemimpin Indonesia, termasuk presiden,” kata Fahri lagi.

Dia bahkan bercerita tentang kunjungannya tahun 2016 lalu ke daerah konflik di Irak. Menurutnya, di sana tak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan. Sebab, lokasi kunjungan sudah dijaga ketat oleh tentara Amerika saat itu.

“Saya terbang ke Irak dalam suasana yang belum aman, dimana hanya green zone (zona aman), daerah yang terbatas sekali 12 kilo yang dijamin aman, yang lainnya itu tidak aman, tidak ada masalah kita terbang saja,” kata dia.

Dari cerita itu, Fahri melihat tak ada yang perlu didramatisir kunjungan Jokowi ke Afghanistan. Menurut dia, Indonesia tidak punya musuh, sehingga peluang mendapatkan serangan dan ancaman dari negara-negara luar kecil.

“Jadi tidak perlu ada dramatisasi, karena ini biasa-biasa saja, Indonesia sekarang tidak punya musuh, karena tidak punya kepemihakan dalam politik luar negeri pemerintah,” tutup Fahri.

Di Afghanistan, pengawalan terhadap Jokowi sangatlah ketat. Jokowi naik mobil lapis baja dan dua helikopter mengawal dari atas iring-iringan Presiden RI itu.

Setibanya di Istana Kepresidenan, Presiden Afganistan Ashraf Ghani langsung menyambut kedatangan Jokowi dengan upacara kenegaraan. Turunnya salju tak menghambat upacara tersebut.

Jokowi mengungkap, alasannya tetap menginjakkan kaki di Afghanistan sebagai bentuk solidaritas untuk negara Muslim yang tengah mengalami konflik tersebut. Menurut Jokowi, Umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik, perang dan terorisme.

“Datanya sangat memprihatinkan: 76 persen serangan teroris terjadi di negara Muslim dan 60 persen konflik bersenjata di dunia terjadi di negara Muslim. Lebih jauh lagi, jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik, 67 persen pengungsi berasal dari negara Muslim,” kata Jokowi. [fm]

PILIHAN REDAKSI