Gizi buruk di Papua tak sebanding dengan besarnya dana otonomi khusus pemerintah

JAKARTA (UMMAT Pos) — Nama Zaadit Taqwa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) belakangan menjadi bahan perbincangan pasca aksi unjuk ‘kartu kuning’ ke Presiden Joko Widodo saat menghadiri Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu.

Tak sedikit warganet dan politisi yang selama ini dikenal kritis terhadap sejumlah kebijakan Presiden Jokowi menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas aksi protes yang tampak spontan itu.

Satu dari tiga sorotan BEM UI seperti disampaikan oleh Zaadit dalam keterangannya menyinggung gizi buruk dan wabah penyakit di Asmat, Papua yang kini sudah menewaskan setidaknya 70 orang.

“Kondisi gizi buruk tersebut tidak sebanding dengan dana otonomi khusus yang pemerintah alokasikan untuk Papua,” kata Zaadit kepada wartawan usai diamankan anggota Paspampres.

Zaadit menyayangkan wabah penyakit di Papua besar padahal dana otonomi khusus Papua begitu besar.

Sementara itu, menanggapi aksi Zaadit, Presiden Jokowi saat diwawancara secara terpisah menyatakan akan mengirimkan BEM UI ke Asmat untuk melihat kondisi disana secara langsung.

“Mungkin nanti, ya, mungkin nanti saya akan kirim semua ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI, ya,” kata Presiden Joko Widodo setelah menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/2/2018), seperti dikutip Antara.

Setelah mendapatkan lampu hijau dari Presiden Jokowi, Zaadit saat dikonfirmasi sebuah media daring (online) menyatakan menolak bantuan yang diberikan presiden. Dirinya mengaku ingin ‘perjuangan’ ke Asmat bisa ditempuh secara mandiri dengan modal fundraising tanpa bantuan negara.

Pantauan awak media, hasil sementara fundraising yang digalang Zaadit dan timnya hingga hari ini, Selasa (6/2/18) telah terkumpul sebanyak Rp 56 Juta.[fm]

PILIHAN REDAKSI