Tiga Siswa MAN 2 Kudus Juarai Kompetisi ICT Tingkat Asia Tenggara

KUDUS (UMMAT Pos) — Pelajar Madrasah kembali mengukir prestasi tingkat internasional di bidang ICT (Information and Communication Technology). Kali ini tim asal MAN 2 Kudus meraih juara 1 kompetisi ICT se-Asia Tenggara. Mereka adalah Amik Rafly Azmi Ulya, Muhammad Abdul Majid, dan Umar Sa’id Gunawarman.

Kompetisi ICT tingkat Asia Tenggara ini diselenggarakan SEAMEO (South East Asia Ministry of Education Organization), sebuah organisasi internasional bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di Asia Tenggara. Kompetisi ITC ini diikuti 990 peserta dengan 332 tim dari berbagai Negara seperti Kamboja, Indonesia, Saudi Arabia, Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Kompetisi ini dibuka pada 19 September 2017. Para peserta digodok terlebih dahulu melalui tahapan training dari Oktober hingga November. Selanjutnya, mereka menjalankan proyek Augmented Reality (AR)-nya pada 30 November 2017 hingga 4 Januari 2018.

Hasil penilaian proyek AR ini diumumkan pada 26 Januari 2018, dan MAN 2 Kudus meraih juara 1. Atas prestasi ini, tim MAN 2 Kudus berhak atas hadiah sebesar USD500.

“Pada Kompetisi tersebut kami membuat SE AR (Animal Education Based Augmented Reality), yakni aplikasi pengenalan hewan berbasis AR. SE AR merupakan aplikasi pendidikan 3D berbasis Augmented Reality (AR) yang mengajak anak-anak untuk belajar mengenal hewan-hewan dengan visualisasi 3D terhadap hewan tersebut,”ujar Amik, Kamis (08/02) seperti dilansir laman resmi Kemenag.

Muhammad Abdul Majid menambahkan, dalam aplikasi ini terdapat pula informasi tentang hewan yang disetarakan dengan kebutuhan anak usia sekolah dasar.

Tim MAN 2 Kudus mengaku membutuhkan waktu lima hari untuk menentukan gagasan pokok aplikasi Proyek SE AR nya. Setelah itu, dibutuhkan empat hari persiapan, empat belas hari proses pembuatan, dan dua hari tahap akhir finising. Total butuh waktu 25 hari dalam pembuatan apikasi ini.

Menjadi pemenang dalam kompetisi ini tentu tidak mudah karena persaingan yang ketat. Muhammad Miftahul Falah sebagai guru pendamping mengakui bahwa anak-anak didiknya menghadapi tantangan cukup berat.

“Tantangan pertama bagi mereka adalah scripting. Tidak mudah melakukan scripting karena scriptingnya sulit. Kedua, tantangan aplikasi, yaitu Blender, Vuforia, dan Unity,” ujarnya.

“Mereka harus bisa menguasai semuanya yang masih terhitung baru buat mereka. Tapi akhirnya merapa paham. Dan Alhamdulillah, aplikasi ini sudah pernah dicoba ke anak-anak SD dan mereka tertarik,” sambungnya.[fm/kemenag]