Stasiun kematian itu, apakah ia sudah dekat ataukah masih jauh?

Oleh: Muhammad Istiqamah*

ADA masa-masa lalai dalam perjalanan panjang keistiqamahan kita menuju Allah.

Ketika berhenti sejenak di salah satu stasiun kesadaran, barulah kita tertegun sejenak betapa banyak dosa yang telah kita hasilkan di masa lalai itu. Padahal perjalanan kelalaian itu tidak juga berjarak begitu jauh. Hanya sebentar saja.

Jika dosa itu terasa panas dalam dada kita. Membuat bibir kita kering lalu berat untuk berzikir pada-Nya. Maka ayat ini bagaikan seteguk air segar di tengah sahara yang gersang nan tandus,

“Katakanlah (kepada mereka), wahai hamba-Ku yang melampai batas atas diri mereka janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (QS. Az-Zumar: 53).

Di stasiun kesadaran itulah semakin kita merasa bahwa Allah begitu sayang kepada kita. Di siang hari, Allah berikan kesempatan kepada hamba yang lalai tadi malam. Malam berikutnya tiba, dan Allah masih memberikan ampunan-Nya kepada hamba yang lalai di siang hari lalu beristighfar bermunajat pada-Nya.

Begitulah tiap hari.

Karena pintu taubat-Nya masih terbuka lebar. Sampai kita tiba pada-Nya di stasiun kematian.

Sayangnya, banyak yang enggan singgah di stasiun kesadaran. Hidupnya dipenuhi dengan kelalaian.

Kisah Fir’aun mungkin bisa menjadi pelajaran berharga, yang kesehatan, kekuatan dan kekuasaannya menjadikannya sombong sepanjang perjalanan hidup. Tatkala tiba di stasiun kematian, ia baru memelas dengan tubuh lemah dan nafas tersengal, “Saya beriman, bahwa tiada Tuhan selain Dzat yang diimani oleh Bani Israil, dan saya bagian dari muslimin.”

Dijawab kepadanya, “Apakah baru sekarang?, Padahal kamu sudah bermaksiat sebelum ini, dan kamu juga termasuk orang yang berbuat kerusakan.

Maka hari ini Kami selamatkan badanmu supaya menjadi pelajaran bagi orang setelahmu.

Dan sesungguhnya banyak dari manusia lalai dari ayat Kami.” (QS. Yunus: 90-92)

Sebaliknya, contoh manusia-manusia sholeh; Nabi Dawud, Sulaiman dan Ayyub bukanlah manusia yang tak pernah lalai. Mereka manusia yang juga lalai namun selalu kembali pada Allah.

Mereka dirahmati Allah, ditinggikan derajatnya di akhirat, dimuliakan di dunia sebagai raja (dawud dan sulaiman) diberikan keluarga yang sholih (ayyub), karena merekalah al-awwab. Hamba-hamba yang kembali pada Allah setelah lalai. (lihat QS. Shad: 31, 44)

Saat ini kita masih akan melanjutkan perjalanan. Nihil bagi kita ilmu tentang stasiun kematian itu, apakah ia sudah dekat ataukah masih jauh.

Tersadar lalu kembali kepada Allah dalam stasiun-stasiun persinggahan itu masih jauh lebih baik daripada lalai sepanjang perjalanan hidup. Lalu tersadar di stasiun kematian.

*) Penulis, mahasiswa Universitas Islam Madinah Al Munawwarah