Innalillahi, Pembantu WNI meninggal diduga dianiaya majikan

KUALA LUMPUR (UMMAT Pos) — Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia, Adelina (21) yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga diduga telah disiksa oleh majikannya hingga meninggal dunia di Malaysia.

Media setempat Senin melaporkan, Adelina meninggal pada pukul 16.45 petang waktu setempat di Rumah Sakit Bukit Mertajam, Pulau Pinang, Malaysia, Ahad (11/2).

Wanita asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, telah bekerja di rumah semi terpisah di Taman Kota Permai.

Dia terlihat oleh tetangga yang prihatin dengan luka di tangan dan kakinya.

Menurut seorang tetangga, Adelina telah terlihat tidur di samping rottweiler (anjing penjaga rumah asal Jerman) setiap hari selama hampir dua bulan. Dia menolak untuk berbicara dengan mereka yang menyapanya.

Mencurigai ada yang tidak beres, tetangga tersebut menghubungi seorang wartawan yang kemudian memberi tahu kantor perwakilan anggota dewan Bukit Mertajam.

Anggota dewan kota Joshua Woo dan rekan-rekannya kemudian mengunjunginya dan menemukan Adelina duduk di teras mobil.

Seorang wanita berusia 60 tahun yang merupakan majikan Adelina, menyuruh mereka untuk keluar dan meminta mereka untuk menantikan putrinya kembali ke rumah.

Anak perempuan tersebut kemudian menolak dikatakan menganiaya pembantu tersebut, namun mengaku kepada Woo dan rekan-rekannya bahwa dia telah menampar Adelina sekali atau dua kali.

Wanita itu kemudian menjelaskan luka yang diderita Adelina adalah akibat bahan kimia kuat.

Dia mengatakan karena Adelina telah buang air besar di saluran pembuangan di dapur, menyebabkannya tersumbat. Dia kemudian disuruh menuangkan bahan kimia ke septic tank.

Dia mengklaim bahwa Adelina telah menumpahkan bahan kimia itu ke kaki dan lengannya sendiri, sehingga menyebabkan luka bakar.

Woo kemudian memberi tahu kelompok pendukung migran Tenaganita dan mengajukan laporan polisi mengenai masalah tersebut.

Kepala Polisi Distrik Seberang Perai Pusat ACP Nik Ros Azhan Nik Abdul Hamid mengatakan bahwa kasus tersebut akan diselidiki sebagai pembunuhan.

Dia menambahkan, awalnya kasus tersebut dikategorikan menurut Bagian 324 KUHP karena secara sukarela menyebabkan luka karena senjata atau sarana yang berbahaya.

Nik Ros mengatakan PRT tersebut telah bekerja dengan majikan selama sekitar dua tahun.

Dia mengatakan bahwa Adelina dibawa ke kantor polisi oleh majikannya.

“Ketika kami mencoba berbicara dengannya, dia masih takut dan menolak memberikan pernyataan apa pun,” katanya kepada Free Malaysia Today.

Nik Ros mengatakan dua saudara kandung berusia 36 dan 39 telah ditangkap untuk penyelidikan.

Ketua Permai (Perhimpunan Masyarakat Indonesia) Utara Dato Trisya Devi Arfandi turut berduka cita dengan kekejaman terhadap WNI di Bukit Mertajam tersebut yang dikabarkan sudah meninggal dunia.

Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang belum bisa dihubungi terkait permasalahan tersebut, demikian KBN Antara melaporkan.[fm]

PILIHAN REDAKSI