Ketika Cadar Digugat

Kontemplasi  Atas  Hak Asasi Manusia

Oleh: Fauziah Ramdani S.Sos.,M.Si*

“Cadar telah menjadi streotipe  istimewa dikalangan liberalis, bagi mereka ,cadar bisa menjadi bahan lelucon, sebab tidak ada korelasi antara syariat dan cadar karena sifat hukum masih diperdebatakan. “Padahal bukankah cadar jelas terurai siratnya dalam konsep theosentris Alquran?”

Beberapa bulan  yang lalu  di tahun 2017 saya sempat menulis opini di salah satu surat kabar lokal  di Makassar berjudul, Ketika Cadar Menjadi Hiburan.Tulisan itu tentu tidak terlepas dari akumulasi ingatan penulis akan fenomena pemakaian cadar yang semakin massif dan tidak  terbendung lagi khususnya di kalangan muslimah nusantara. Sebab definisi cadar sebagai identitas muslimah  yang sholehah bukan lagi hanya dianut kalangan agamis, anak pesantren dan sejenisnya. Tetapi lebih dari itu penggunaan cadar telah membumi lalu menjadi trend tersendiri.

Saat ini ketika fenomena  cadar sebagai hiburan-pun belum usai, tersebutlah kisah baru yang sejujurnya bukan benar-benar ‘news info’, jauh sebelum kisah ini terungkap, rangkaian demi rangkaian kisah klasik pro kontra pemakaian cadar telah menjadi asupan massa sehari-hari. Persoalannya hanya pada range zaman dimana muslimah itu berkehidupan dengan ‘identitas cadar’ bersama sikap responsif  yang berubah-ubah seiring perkembangan teknologi dan zaman.

BACA JUGA: Hukum Memakai Cadar Menurut NU

Jika dulu muslimah harus menyiasati resistensi terhadap sindiran tekanan dan ancaman khalayak awwam akan identitas cadarnya itu dengan kondisi mulut dibungkam dan kesabaran yang berlapis-lapis untuk diam, maka kini di era digital  kondisinya berbalik. Frame berpikir kolot, kuper, konservatif, fundamentalis pada pemakaian cadar yang diasuh oleh kalangan sebutlah ‘anti cadar’ ini dapat dibendung dengan teknik menyerang. Mengapa? sebab  diakui kini wanita bercadar telah  menjadi respresentasi muslimah terbaik. Terima atau tidak dengan segala bentuk maknawi dari cadar itu; baik yang dipaham hanya sekadar gaya hidup/trend hingga dimaknai sebagai simbol kognisi religi yang holistik atas ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran maupun Hadist Nabi.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Ayat diatas secara gamblang menjelaskan  frase ‘menutupi keseluruhan tubuh’  tidak mengandung unsur ambiguitas bahasa, juga tidak perlu menimbulkan makna yang multi interpretatif. Menurut hemat penulis, keseluruhan tubuh yang termaktub didalam Alquran yaitu yang ditutup dengan jilbab dimulai dari ujung rambut hingga kaki tanpa terkecuali menjadi alasan mengapa muslimah hari ini banyak yang berjuang menggunakan cadar. Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mazhab akan hukum cadar yang wajib atau sunnah. Memakai cadar tetaplah menjadi satu bukti  lahirnya energi iman dan kekuatan pada aturan-aturan Ilahiah.  Sehingga jika ada segelintir orang dan atau kelompok lalu berdiri tegap menolak asasi penggunaan cadar bagi muslimah, adalah persoalan keliru.

Julukan konservatif  “not usually liking or trusting change, especially sudden change” (Biasanya tidak suka terhadap perubahan, terutama perubahan yang sifatnya tiba-tiba) yang dihembuskan untuk orang-orang yang melabeli dirinya “istiqomah dengan sunnah Nabi” ini  justru adalah hak asasi manusia yang tidak sedikit diabaikan, diacuhkan hingga diolok-olok. Mengapa memakai cadar dilabeli konservatif atau sebagai penganut aliran fundamentalis? Bukankah memakai cadar adalah hak asasi manusia, sebagaimana manusia berhak memperoleh hak hidup dan mendapatkan perlindungan?.

BACA JUGA: Memilih Bercadar, Peggy Melati Sukma Siap Berbagi Inspirasi Agama Di Kota Bandung

Jika ditelisik lebih dalam, mengapa masih ada  individu dan atau kelompok-kelompok yang sebutlah merasa dirugikan dan terancam secara psikologis atas  eksistensi muslimah dalam menjunjung tinggi nilai-nilai syariat? dan bagaimana kita harus bersikap pada tudingan-tudingan miring yang dihembuskan oleh mereka yang anti syariat? .Penyebab hal tersebut tidak lain karena persis dengan konsep HAM Barat sebagaimana yang diterima oleh dunia internasional.  Jika HAM dalam Islam didasarkan atas aktivitas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sementara dunia Barat percaya bahwa pola tingkah laku  manusia dan atau kelompok hanya ditentukan oleh hukum-hukum negara atau sejumlah otoritas yang mencukupi untuk tercapainya aturan-aturan publik yang aman dan perdamaian universal. Perbedaan yang paling asasi juga nampak dari cara memandang HAM itu sendiri.

Di Barat perhatian  HAM bersifat bersifat anthroposentris, dimana pandangan berdasar pada perkembangan zaman yang berpeluang besar untuk dilegitimasi menjadi  aturan-aturan. Wajar jika  yang berpusat kepada pandangan manusia  adalah ukuran terhadap kebenaran. Sedangkan dalam Islam, HAM menganut pandangan yang bersifat theosentris, yaitu Allah subhanahu wataala sebagai  Yang Maha Tinggi dan manusia memiliki tugas mengabdi kepadaNya. Peraturan yang bersifat mengikat didalam syariat  berfungsi untuk menyelematkan manusia bukan hanya didunia tetapi juga  akhirat yang kekal.

Dalam perspektif Barat manusia ditempakan dalam suatu ukuran tertentu  di mana hubungannya dengan Allah sama sekali tidak dijelaskan. HAM dinilai hanya sebagai perolehan alamiah sejak kelahiran (humain being). Sementara HAM dalam perspektif Islam dianggap dan diyakini sebagai anugerah dari Allah sehingga setiap individu merasa bertanggung jawab akan hubungannya kepada Allah Sang Pemilik Aturan.

Dengan demikian benar merah  yang bisa disimpulkan atas fenomena gugatan terhadap simbol-simbol  penegakan HAM dalam Islam seperti pengunaan sehelai kain diwajah muslimah (baca: cadar)  adalah suatu sikap anti Islam yang sangat keliru. Perihal besar yang menjadi amunisi kuat  dikalangan liberalis “Cadar telah menjadi streotipe istimewa dikalangan liberalis, bagi mereka cadar bisa menjadi bahan lelucon, tidak ada korelasi antara syariat dan cadar karena sifat hukum masih diperdebatakan. Katanya..”. Padahal bukankah cadar jelas terurai siratnya dalam konsep theosentris Alquran?”

Maka, kita harus melawan pemikiran zaman yang berlawanan dengan nilai-nilai Ilahiah, jangan diam, unggulkan syariat dalam kehidupan.

Wallahu a’lam.

*) Penulis, Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia Pusat