Nafas Dakwah Kampus, Perjuangan Tanpa Henti

Oleh: Fauziah Ramdani S.Sos.,M.Si*

“Sesungguhnya kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya, tidak turun tanpa tujuan dan tidak diperoleh secara kebetulan. Maka perlu ada upaya keras dari kita untuk menjemput dan menyongsong kemenangan itu, baik dengan menyiapkan sebab-sebab kemenangan atau dengan memenuhi syarat-syarat kemenangan tersebut.  (Dr. Yusuf  Qardhawi)

Kita tentu masih ingat bagaimana heroiknya Bung Utomo di peristiwa 10 November 1945, orasi yang membangkitkan bulu kuduk, ketika para pemuda Indonesia secara gagah berani maju menantang peluru perlawanan tentara Inggris dan NICA yang bersenjata modern.  Pemuda Indonesia  kala itu benar-benar yakin bahwa kehormatan dan kemuliaan bangsa Indonesia adalah nomor satu, walau hanya dengan modal  bambu runcing.

“Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
dan untuk kita, saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: Merdeka atau mati, dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita , sebab Allah selalu berada di pihak yang benar, percayalah saudara-saudara,Tuhan akan melindungai kita sekalian.
Allahu Akbar…!! Allahu Akbar…! Allahu Akbar!”

Peristiwa diatas hanya segelintir kisah heroik tentang bagaimana eksistensi pemuda ditengah kegamangan zaman kala itu. Sebab kini kita masih berhadapan dengan problematika yang sama dalam situasi yang berbeda; yang terpenjara dengan  krisis iman dan moral. Lalu dimana peran pemuda Islam berlabel aktivis dakwah  dalam menyeru kemakrufan?. Dimana peran pemuda dikala mata indonesia  menangis meratapi pemuda yang terbius LGBT dan perilaku amoral lainnya?

Pemuda Islam harus sadar, bahwa mereka adalah aset bangsa, benih-benih perjuangan yang tumbuh subur ditubuh  para pejuang pembela Islam, jua harus mampu memantik semangat mereka untuk bangkit  memperjuangkan Izzatul Islam.

Maka menjadi keniscayaanlah totalitas pengabdian   kepada agama ini adalah visi dari setiap perjuangan dakwah , tidak akan pernah kita jumpai orang-orang yang  berpijak dibumi dan menyuarakan dakwah Ilallah sepi dari tribulasi,ujian, cibiran, hinaan, ancaman hingga kehilangan nyawa karena menegakkkan dakwah bil haq. Demikianlah dakwah ini, manakalah kita memilih terjun didalamnya maka kita harus siap  berjalan diatas duri dan berbaring diatas selimut kesegelisahan atas problematika ummat yang semakin menggurita.

Sejak zaman Nabi dan Rasul; Nabi Nuh dengan kesabaran bajanya dalam berdakwah, berlalu lama dakwah seribu tahun kurang setengah abad, Nabi Nuh tak kuasa berbuat  apa-apa selain menyeru umatnya untuk meng-Esakan Allah. Bahkan, istri dan anaknya pun kafir. Sebab hidayah adalah hak prerogatifNya, walau Nuh adalah Nabiullah, tetap saja Ia hanyalah penyampai, bukan pemberi hidayah.

Jalan kebenaran memang tak akan pernah sepi dengan ujian. Ibrahim, Musa, Isa dan penghulu para nabi, Muhammad Shallallahu ’alaihi Wa Sallam. Dihantam oleh ujian bertubi-tubi yang tiada ringan, didera hinaan yang tiada tandingannya. Begitupun dengan para penerus risalah dakwah: Sahabat, Tabiin, Pengikut Tabi’in hingga generasi setelahnya dan kita semuanya –aktivis muslim. Ujian, tekanan, himpitan, cemoohan dan aneka makar lainnya di jalan ini adalah hal yang biasa. Sebab orang-orang yang dilabeli dan melabeli diri sebagai ‘aktivis dakwah’ tidak akan dibiarkan berkata, ”Kami telah beriman,” kemudian tiada ujian menderanya. Sesungguhnya itu mustahil terjadi. Jika nafas dakwah kebathilan berhembus hampir disetiap  ruang dan waktu, begitupula dengan dakwah yang haq ini akan banyak riuh gemuruh beradu mengempas anak-anak zaman baik di kota maupun di desa agar tunduk pada gemerlap dunia.

Perjuangan dakwah kampus harus terus dirintis hingga nafas terkahir, berhadap-hadapan dengan ujian adalah sarana  pembuktian keimanan. Sebuah syair Arab   mengatakan, “tugasmu menebar benih bukan menuai hasil dan Allah adalah sebaik-baik Penolong bagi orang-orang yang berusaha.” Kita harus terus belajar dan terus mengasah hati agar perjuangan dakwah tumbuh diatas pondasi keikhlasan; menempah hati untuk menetapi  kesabaran dalam berjamaah dan bersama mengusung dakwah bilhaq, kita hanya punya satu tujuan yaitu mengharap ridho Allah Azza Wajalla semata, tiada tujuan untuk memakmurkan lembaga / organisasi/ kelompok tertentu. Jika pun itu terjadi, semuanya bukanlah tujuan utama;sebab  kita bersama dalam dakwah, bermufakat dalam musyawarah dan bersabar dengan amanah dan tandzim (pengaturan) hanya karena Allah semata.

Tugas memperjuangkan kemuliaan Islam,  memerangi kemungkaran, berdakwah dengan  bashirah, beramar ma’ruf nahi munkar adalah nafas dakwah yang senantiasa harus mengalir ditubuh seorang aktivis dakwah. Jangan mundur dijalan dakwah, padahal pengorbanan masih seujung kuku, jangan merasa paling berjasa dijalan dakwah, padahal nafas dakwah masih separuh saja dalam kehidupan.

Jika Rasulullah yang mengikuti perang sebanyak 27 kali di umur yang tidak lagi muda hingga memasuki usia  60 tahun, masih memimpin perang Tabuk. Adapula  para sahabatnya yang masih berangkat perang di usia senja saat 70 tahun. Pun jangan ragukan lagi keteladanan generasi awal Islam, Abdurahman bin Auf, dengan lantang  menyumbangkan/500 ekor kuda. Di lain waktu, menyedekahkan 500 ekor untanya. Tidak kalah dengan manusia yang paling disayangi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ialah Abu bakar yang memberi tanpa sisa seluruh hartanya di jalan Allah. Dari segi ibadah ritual, jangan pula lupa dengan Umar Bin Khathab qiyamullail di usianya yang tersisa setelah memilih Islam sebagai jalan hidupnya hingga pernah pingsan berhari-hari lamanya sebab didengarnya ayat azab Allah, padahal, bukankah surga telah Allah gratiskan untuknya?

Nafas dakwah kampus perjuangan tanpa henti diawali dengan air mata, keringat dan bahkan hingga nyawa harus menjadi taruhannya. Nafas dakwah kampus akan terus berhembus hingga Allah mengatakan waktunya untuk pulang. Nafas dakwah kampus perjuangan tanpa henti adalah saksi sejarah tekad  aktivis dakwah bergelar muslimah yang  memupuk cita-cita besar untuk Izzatul Islam, dengan keyakinan yang melangit  akan pertolongan Allah  bahwa dari kampuslah insyaa Allah peradaban Islam itu akan lahir di tangan para pemuda-pemudi Islam.

Teruslah berjuang hingga akhir, yakinkan kekuatan bahwa menolong agama Allah adalah pekerjaan paling mulia dan akan mendatangkan pertolonganNya berjuta-juta kali banyaknya  untuk mereka yang bergelar aktivis dakwah. Kamukah aktivis dakwah yang siap di tolong Allah ? Insyaa Allah Bisa.

Wallahu a’lam.

*) Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia

 

 

PILIHAN REDAKSI