Sebut Presiden Suriah dengan “Binatang”, Trump Ikut Kecam Serangan Kimia di Suriah

WASHINGTON (UMMAT Pos) — Menyusul serangan kimia mematikan oleh rezim Assad di pinggiran Damaskus pada Sabtu lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Ahad turut mengecam aksi tersebut sembari menyebut Bashar al-Assad Suriah sebagai “binatang “.

“Banyak yang tewas, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan KIMIA tak beralasan di Suriah. Area kekejaman dalam kuncian dan dikepung oleh Tentara Suriah, membuatnya benar-benar tidak dapat diakses oleh dunia luar. Presiden Putin, Rusia dan Iran bertanggung jawab karena mendukung binatang Assad. Harga yang harus dibayar terlalu mahal, ” cuit Trump dalam twitter pribadinya.

Mengutip laporan Anadolu Agency yang melaporkan Trump menyalahkan pendahulunya, dengan mengatakan: “Jika Presiden Obama telah bertindak, bencana Suriah sudah akan berakhir lama sekali! Binatang Assad akan menjadi sejarah!”

Menurut White Helmets, yang juga dikenal sebagai Pembela Sipil Suriah, pasukan rezim menyerang Douma, sebuah kota di Ghouta Timur, dalam serangan tengah malam dengan menggunakan gas beracun yang menyebabkan sedikitnya 70 warga sipil tewas.

Secara keseluruhan, White Helmets menghitung lebih dari 500 kasus paparan kimia, banyak di antaranya adalah wanita dan anak-anak.

Menanggapi serangan kimia itu, PBB mengatakan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres “sangat khawatir dengan tuduhan bahwa senjata kimia telah digunakan terhadap penduduk sipil di Douma”.

“Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak dalam posisi untuk memverifikasi laporan-laporan ini, Sekretaris Jenderal mencatat bahwa setiap penggunaan senjata kimia, jika dikonfirmasi, adalah menjijikkan, dan membutuhkan penyelidikan menyeluruh,” kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan.

“Sangat penting bahwa warga sipil dilindungi.”

Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah – terutama di Ghouta Timur – untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Meskipun sudah ada resolusi, rezim dan sekutu-sekutunya awal bulan ini tetap meluncurkan serangan didukung oleh kekuatan udara Rusia yang bertujuan menguasai Ghouta Timur yang dikuasai oposisi.

Rumah bagi sekitar 400.000 orang, Ghouta tetap menjadi target pengepungan rezim yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Awal bulan ini, komisi penyelidikan PBB merilis laporan yang menuduh rezim melakukan kejahatan perang di Ghouta Timur, termasuk penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil.[fm/aa]

 

PILIHAN REDAKSI