Aksi pencurian ikan di perairan Indonesia, nelayan Myanmar divonis denda Rp200 juta

BANDA ACEH (UMMAT Pos) — Ketua Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, memvonis seorang nelatan Myanmar Win Su Htwe (20), yang menakhodai Kapal Motor (KM) SLFA 4935 GT.29.17 dengan hukuman bayar denda Rp 200 juta.

Vonis tersebut dibacakan majelis hakim yang diketuai Faisal Mahdi didampingi Nurmiati dan Supriadi masing-masing sebagai hakim anggota pada persidangan di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Senin, (9/4/2018).

Terdakwa dinyatakan terbukti mencuri ikan di Perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, Selat Malaka sebanyak 720 kg ikan campuran bersama tiga anak buah kapal yaitu, Myo Win Aung (32), Soe Min (34), dan Moe Moe (40). Keempat warga Myanmar ini ditangkap pada 24 Januari 2018 sekitar pukul 04.46 WIB.

“Terdakwa Win Su Htwe dinyatakan bersalah melakukan pencurian ikan di wilayah Indonesia. Terdakwa dijatuhi hukuman membayar denda Rp200 juta,” kata Faisal Mahdi, ketua majelis hakim.

Putusan majelis hakim tersebut sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum membayar denda Rp200 juta. Namun, majelis hakim tidak memutuskan hukuman subsidair enam penjara jika terdakwa tidak membayar denda.

Berdasarkan fakta persidangan, kata majelis hakim, terdakwa dibekuk saat menangkap ikan di perairan Indonesia, wilayah Aceh, Selat Malaka oleh kapal patroli Kementerian Kelautan Perikanan atau KKP Hiu 12.

“Aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan terdakwa di perairan Aceh tidak dilengkapi dokumen resmi dari Pemerintah Indonesia,” kata majelis hakim menyebutkan.

Kemudian, lanjut majelis hakim, berdasarkan keterangan saksi-saksi, di kapal yang dinakhodai terdakwa ditemukan sekitar 720 kilogram ikan berbagai jenis. Ikan tersebut ditangkap di perairan Indonesia menggunakan pukat yang dilarang.

“Perbuatan terdakwa merugikan keuangan Indonesia di sektor perikanan. Perbuatan terdakwa juga merusak sumber daya perikanan Indonesia karena menangkap ikan menggunakan pukat,” sebut majelis hakim.

Majelis juga memutuskan barang bukti berupa satu unit kapal kayu, alat navigasi dan alat komunikasi kapal serta uang sekitar Rp2 juta lebih hasil penjualan 720 kilogram ikan hasil tangkapan terdakwa dirampas untuk negara.

“Sedangkan pukat yang digunakan terdakwa menangkap ikan di wilayah Indonesia dirampas untuk dimusnahkan,” sebut majelis hakim.

Atas putusan tersebut, terdakwa Win Su Htwe menyatakan menerimanya. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zuhri menyatakan pikir-pikir. Majelis hakim memberikan waktu tujuh hari untuk JPU untuk pikir-pikir. [fm]

PILIHAN REDAKSI