Kriminolog Unpad: Penanganan peredaran miras bukan hanya sebatas penegakkan hukum

SUMEDANG (UMMAT Pos) — Psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Teddy Hidayat mengatakan nekatnya masyarakat menenggak minuman keras oplosan didasarkan pada beberapa faktor yang ia sebut sebagai `Perilaku Berisiko`.

Perilaku berisiko ini sebetulnya sudah diketahui masyarakat bahwa meminum miras oplosan tentu sangat berbahaya bagi kesehatannya. Namun ada beragam motivasi seseorang “nekat” menenggak minuman oplosan.

“Mereka seolah menginginkan sebuah pengakuan atau mencari sensasi atas dirinya tanpa memedulikan nyawa,” kata dia, Rabu (11/4/2018).

Menurutnya, masalah miras oplosan bukanlah barang baru namun sudah ada sejak dulu dan sama-sama menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Ia menyoroti kasus miras oplosan ini akan baru menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan setelah muncul korban.

“Cuman memang kita tak pernah berupaya belajar dari peristiwa tadi untuk mencegahnya, saya pikir,” kata dia.

Untuk memutus rantai itu, ia menyarankan agar mengubah cara pandang masyarakat akan perilaku berisiko ini melalui edukasi. Setelah difahamkan, maka langkah selanjutnya dengan melakukan penertiban terhadap penjual minuman tanpa izin disamping pengawasan ketat dari aparat setempat.

“Jadi yang melatarbelakangi kenapa dia meminum ini yang harus ditanggulangi, penyebabnya ini yang harus ditanggulangi. Bukan akibat dari perilaku berisiko sudah minum baru ditanggulangi minumnya, yah terlambat,” kata dia.

Senada dengan Teddy, Kriminolog Unpad, Yesmil Anwar, berpandangan bahwa penanganan peredaran miras bukan hanya sebatas penegakkan hukum saja. Menurut dia, perlu adanya peraturan daerah yang menyatakan secara tegas mengenai peredaran miras di wilayahnya masing-masing.

“Ini sudah masuk penyakit sosial di dalam masyarakat itu sendiri yang mungkin dipicu oleh pengangguran, gaya hidup, kan bisa saja oleh situasi-situasi kalau kita sebut frustasi sosial, bisa saja. Yang menjadikan itu sulit, jadi kalau penanganannya hukum, dia akan selesai di ranah hukum. Tapi ini kan tidak hanya hukum, tapi Perda ini tidak diminum sendiri di rumah tapi bersama sama, jadi ini gaya hidup,” kata dia.

Hal lain yang bisa dilakukan yakni dengan membuat semacam pusat kegiatan pemuda. Semakin banyak pusat kegiatan pemuda, tentunya disokong oleh Pemda, akan sedikit demi sedikit mengurasi kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi miras termasuk narkoba.

Sumber: Antara

PILIHAN REDAKSI