79 Warga Muslim Rohingya yang Terdampar di Aceh Tak Miliki Dokumen Apapun

BANDA ACEH (UMMAT Pos) — Kepala Pelaksana Harian Kantor Imigrasi Kelas II Kota Lhokseumawe, Yahya Ansari mengatakan, puluhan warga etnis Rohingya yang terdampar di Aceh tidak memiliki dokumen apapun sehingga mereka dianggap sebagai imigran ilegal yang masuk ke wilayah Indonesia.

“Sementara ini, hasil pemeriksaan kami seluruhnya imigran ilegal karena tidak memiliki dokumen. Baik identitas diri maupun dokumen perjalanan,” kata Yahya kepada wartawan, di SKB, Kota Juang, Bireuen, Ahad (22/4/2018)

Setelah dievakusi dari perahunya di Pantai Kuala Raja, para muslim rohingya itu langsung diperiksa kesehatan, identitas diri hingga dokumen perjalanan mereka. Namun, pemeriksaan belum bisa secara mendetail karena keterbatasan bahasa.

“Tindakan kita pertama melakukan periksaan kesehatan, pendataan, kita foto dan kita ambil sidik jarinya. Pemeriksaan belum dilakukan secara mendalam karena terkendala bahasa. Mereka tidak bisa berbahasan Inggris,” jelas Yahya.

Dikatakan Yahya, data terakhir menunjukkan bahwa para etnis Rohingya itu berjumlah 79 orang, terdiri dari 44 orang laki-laki, sebanyak 27 perempuan dan delapan anak-anak. Semua nama mereka sudah tercatat, tetapi masih nama sementara.

“Nama-nama mereka sudah kita kantongi. Ini masih nama sementara, belum nama pasti. Karena mereka tidak ada dokumen pendukung apapun. Identitasnya tidak ada sama sekali,” ungkap Yahya.

Sementara itu, untuk jangka waktu penampungan, kata Yahya, pihaknya belum mengetahui akan jangka waktu penampungan bagi etnis Rohingya tersebut. Pihak imigrasi belum bisa memberi keterangan setelah dari SKB Bireuen, para muslim Rohingya itu akan dibawa kemana.

“Karena kantor Imigrasi Kota Lhokseumawe tidak memiliki tempat memadai, untuk semantara mereka ditempatkan di SKB. Untuk relokasi kami belum membahas itu. Nanti kita koordinasikan lagi dengan instansi terkait,” pungkasnya.

Para imigran itu merapat ke daratan Aceh pada Jumat 20 April sekira pukul 14.30 WIB, setelah sempat terombang-ambing di lautan lepas dengan hanya menumpangi parahu kayu, selama delapan hari. Dan kini, para imigran itu ditampung sementara di tempat Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bireuen sejak sore kemarin.[fm]

 

PILIHAN REDAKSI