Awalnya ingin jadi PNS, pilihan tak biasa justru antar Masnawati sukses jadi Petani Zaman Now!

LUWU TIMUR, SULSEL (UMMAT Pos) — Kisah kesuksesan perempuan belia ini mampu menepis pandangan bahwa kemiskinan terstruktur ada di kalangan petani, artinya jika neneknya petani miskin, maka hingga anak cucunya juga bernasib serupa.

Seorang Muslimah, warga Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur bernama Masnawati (22 tahun) termotivasi untuk mengubah pandangan umum tetang petani yang identik dengan kemiskinan. Berikut kisah singkatnya:

“Sebenarnya sejak memasuki bangku SMP sudah mencari sekolah yang menjurus ke pertanian, namun belum ada. Nanti setelah masuk ke jenjang SMA baru bisa masuk ke SMK Pertanian,” kata anak ke-5 dari tujuh bersaudara ini mengawali kisahnya.

BACA JUGA: Tak Ada Anak Muda Indonesia Berminat Dan Punya Mimpi Ingin Jadi Petani?

Muslimah kelahiran 16 Desember 1994 ini sudah punya tekad untuk bertani. Sejak duduk di SMK Tomoni, gadis desa ini mengaku sudah tak punya pilihan lain.

Menjawab pertanyaan mengapa justru memilih bertani, meneruskan jejak orangtua? Alumnus Politeknik Pertanian Pangkep ini tegas menyatakan bertani bebas menentukan jam kerja dan pendapatan.

Kini usaha bibit yang dikembangkan di halaman rumah orangtuanya mampu meraih omset Rp 100 juta setiap tahun. Angka tersebut belum termasuk usaha penjualan pupuk kandang dan hasil pengelolaan kebun coklat di lahan orangtuanya.

Masna, panggilan Masnawati, melanjutkan kisah inspirasinya bahwa obsesi menjadi petani bermula ketika duduk di bangku SMK Tomoni. Saat itu ia mengikuti praktik lapangan di Pusat Riset dan Pabrik Pengolahan Kakao PT Mars Indonesia di Wotu.

Berbekal pengetahuan dari praktik lapang selama tiga bulan ini, Masnah dan empat temannya lalu berkongsi membuat usaha pembibitan kakao. Lima sekawan ini bermodal Rp 500.000 hasil saweran masing-masing Rp 100.000.

Dari hasil jualan bibit kakao dengan modal Rp 500.000, mereka memperoleh keuntungan Rp 2.500.000. Laba itu kemudian dibagi masing-masing Rp 500.000. Namun, setelah memperoleh keuntungan awal, usaha patungan itu harus bubar. Empat teman Masna sudah ada yang harus melanjutkan pendidikan, bekerja di tempat lain, dan ada yang menikah.

Namun, tidak dengan Masna. Berbekal keuntungan bersama Rp 500.000, ia kemudian melanjutkan usaha bibit kakao meskipun seorang diri dengan menafaatkan halaman rumah orangtuanya.

Merawat tanaman dengan menyiram, menyemprot hama dan membuat sambung samping maupun sambung pucuk, sudah menjadi rutinitas Masnawati di halaman samping rumahnya yang telah disulap menjadi lahan pembibitan sejak 2017.

Meskipun baru berjalan kurang lebih setahun, berkat doa dan ketekunannya, Masna sudah mampu mengembangkan 20 ribu batang bibit tanaman kakao per tahun dan hasil penjualannya mencapai Rp100 juta.

BACA JUGA: Sempat Diancam Tetangga Satu Kampung, Inilah Kisah Menggugah Petani Yang Buka Lahan Tanpa Membakar

Dari nilai jual bibit tanaman kakao itu, terdapat laba bersih sebesar Rp60 juta setelah mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp40 juta.

Dengan pendapatan ini, dia mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, merenovasi rumah orang tua dan membantu biaya sekolah adik-adiknya, termasuk menyelesaikan kuliahnya di Politeknik Pertanian Universitas Hasanuddin.

“Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa usaha saya ini perlahan-lahan dapat mengangkat perekonomian keluarga kami,” katanya dengan mata nanar.

Hasil yang diperoleh dari kerja keras itu, tidak membuat dia berpuas diri, justru menjadi penyemangat untuk terus belajar mengembangkan usaha pembibitannya itu dengan rajin mendatangi penyuluh dari PT MARS, ikut seminar dan lokakarya yang membahas tentang pertanian, sekaligus berbagi ilmu dan pengalaman dengan petani-petani dari daerah lainnya.

Tentu semua itu, menjadikan Masnawati semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha yang dirintisnya dengan memanfaatkan lahan sekitar satu hektare milik orangtuanya.

Jadi Petani

Misnawati sebelumnya pernah ingin menjadi menjadi pegawai negeri sebagaimana harapan pada umumnya anak-anak di desanya, namun setelah mengenal lebih dekat seluk-beluk pertanian, cita-cita itu pun berganti untuk menjadi petani. Ia bahkan ingin menularkan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya agar petani lainnya juga dapat menikmati usahanya.

Masna ingin membuktikan bahwa keuntungan dari hasil bertani tidak kalah dengan gaji pegawai pemerintah bahkan dapat melampauinya.

Menurut dia, menjalani profesi sebagai petani bahkan sangat menyenangkan, karena dapat mengatur waktu sendiri alias tidak terikat jam kerja seperti pegawai kantoran.

Di sela-sela waktu luang merawat bibit tanaman, dia dapat menggunakan waktu untuk urusan keluarga ataupun menjadi penyuluh atau pendamping petani dalam mengembangkan usahanya.

Dia meyakinkan kepada sesama petani bahwa menjadi petani sebagai pilihan hidup itu tidak perlu berkecil hati sebab petani dapat menjanjikan kesejahteraan agar bersungguh-sungguh menekuninya.

“Jadi tidak ada alasan takut menjadi petani karena takut menjadi miskin,” tandasnya.[fm]