Kok, banyak keanehan dalam kasus pengusutan penyiraman terhadap Novel?

JAKARTA (UMMAT Pos) –– Tokoh pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mempersoalkan pemanggilan penyidik senior KPK Novel Baswedan oleh penyidik Polres Jakarta Utara (Jakut). Pasalnya selama ini kasus teror penyiraman air keras itu ditangani di Polda Metro Jaya.

“Jadi beberapa waktu lalu Mas Novel dipanggil ke Polres Jakut untuk diperiksa sebagai saksi, tapi kita nggak jelas apakah kasusnya diperiksa di Polda atau di Polres,” kata Dahnil saat dihubungi Jumat (27/4/2018).

Dahnil menyebut banyak keanehan terhadap kasus yang menjerat penyidik senior KPK itu. Dia merasa malah sahabatnya yang terus dikejar untuk mengungkapkan kasus tersebut.

“Kita ngelihat kok banyak keanehan dalam kasus pengusutan penyiraman terhadap Novel. Novel ini korban tapi yang diuber-uber ini ya Novel, dengan nanti seolah-olah disebutkan Novel nggak kooperatif,” urainya.

Dulu yang mau diperiksa justru saya, padahal saya bukan saksi langsung. Jadi serba ganjil, sambung Ketua PP Pemuda Muhammadiyah ini.

Dahnil menyebut selama ini sudah ada dua kali surat pemanggilan yang ditujukan Polres Jakut ke Novel. Dia pun menyoal surat pemanggilan yang datang bertepatan dengan jadwal Novel berobat di Singapura.

“Surat pemanggilan pertama Februari yang lalu, ketika Novel akan dioperasi di Singapura, penyidiknya Polres Jakarta Utara, datang ke rumah Novel, dan disampaikan oleh Novel bahwa besoknya dia akan operasi maka penyidik menyampaikan pemanggilannya dibatalkan,” paparnya.

“Nah, anehnya pemanggilan itu pertama itu dibatalkan, tiba-tiba April yang lalu ketika Novel mau kontrol dengan Singapura lagi setelah operasi datang surat panggilan kedua. Padahal surat panggilan pertama dibatalkan kok ada pemanggilan kedua? Pemanggilan kedua itu tidak ada koordinasi dengan pihak Novel, datang begitu saja. Namun, surat balasan sudah disampaikan bahwa Novel pada waktu yang sama ala berangkat ke Singapura untuk pemeriksaan paska operasi,” bebernya.

Dahnil menyebut pihaknya kini sudah hilang kepercayaan terhadap penuntasan kasus teror terhadap Novel. Meski begitu pihaknya tetap akan menyampaikan fakta-fakta temuan kasus penyiraman ke Novel.

“InsyaaAllah kami akan sampaikan beberapa fakta temuan teman-teman kepada publik terkait keganjilan-keganjilan penanganan kasus ini, di tengah kami mulai kehilangan kepercayaan terhadap polisi, pun demikian terhadap Presiden yang abai dan miskin komitmen terhadap penanganan kasus ini,” ucap Dahnil.

Teror air keras pada Novel itu terjadi setahun yang lalu tepatnya pada 11 April 2017. Hingga kini, pelaku atau bukti kuat yang mengarah ke terduga pelaku masih belum didapatkan.

 

Sumber: Detiknews

PILIHAN REDAKSI