Konstelasi Politik Turki Jelang Pemilu 2018

Oleh: Pizaro*

MANTAN Presiden Turki Abdullah Gül akhirnya memutuskan untuk tidak maju sebagai penantang Recep Tayyip Erdoğan dalam Pilpres Juni 2018.

Sebelumnya, oposisi utama sekuler Partai Rakyat Republik (CHP) mendorong Gül untuk maju. Karena mereka sadar calon lawan “sekuler” akan sulit melawan Erdoğan.

Kultur masyarkat Turki yang Islami akan sulit menerima calon Presiden yang ingin mengembalikan otoriterian sekularisme Turki. Sebab aspirasi keIslaman sedang bangkit ke Turki.

Tapi, menariknya, keputusan mendorong Gül ternyata tidak sepenuhnya disetujui oleh internal CHP.

Bagaimanapun Gül adalah representasi tokoh Islam dan belum tentu aspiratif dengan misi sekularisme yang dibawa CHP.

Gül sendiri adalah pendiri Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) bersama Bülent Arınç dan Erdoğan. Mereka adalah teman seperjuangan.

Kekuatan CHP akhirnya pecah. Mereka mundur teratur mengusung Gül.

Namun, CHP sadar kekuatan mereka juga lemah. Karena itu, tidak heran, anggota parlemen CHP seperti Muharrem İnce  sadar realita. Jika calon menyisakan dua orang, saya akan memilih Erdoğan, kata dia.

Kini, calon penantang kuat Erdoğan tinggal menyisakan Meral Akşener. Akşener bukan nama baru dalam politik Turki. Dia pernah menjabat Menteri Dalam Negeri pada pertengahan 1990-an.

Dia memutuskan membentuk Partai Good (IYI) setelah keluar dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP) setelah partai tersebut mendukung Erdoğan dalam referendum 2017.

Akşener juga dikenal mempunyai misi untuk mendekatkan Turki dengan Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Namun potensi elektabilitas Akşener dinilai masih jauh di bawah Erdoğan.

Sebagai catatan saja, pada Pemilu 2014, mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam Ekmeleddin İhsanoğlu, yang maju sebagai kandidat dengan usungan dari 13 partai oposisi seperti CHP dan MHP, berada di posisi kedua mendapatkan 38.44%.

Sedangkan Ketua HDP Selahattin Demirtaş, yang didukung oleh 8 partai sayap kiri lainnya, menempati posisi ketiga dengan perolehan suara 9.77%. Sebaliknya, Erdogan berhasil meraup 51.7 %.

Bagaimana dengan konstelasi Pemilu 2018? Jika suara Akşener disatukan dengan kandidat lainnya, Selahattin Demirta, polling menujukkan angka mereka di bawah 20 %. Diprediksi Erdoğan akan menang mudah. Apalagi kini Erdoğan sudah berhasil mengajak MHP berkoalisi. Wallahua’lam.

*) Redaktur Kantor Berita Turki, Anadolu Agency Indonesia

 

PILIHAN REDAKSI