Pemda Aceh tampung dan bantu 84 pendatang baru asal Rohingya

BANDA ACEH (UMMAT Pos) — Provinsi Aceh sudah berpengalaman membantu pengungsi Rohingya, walaupun Indonesia tidak ikut menanda-tangani Perjanjian Pengungsi tahun 1951, dan secara nasional tidak mengakui ataupun membantu pengungsi.

“Kata wakil gubernur Aceh, kalau mereka datang kemari, kami akan membantu, karena kami yakin semua orang punya martabat,” kata Mariam Khokar kepala Kantor Organisasi Migrasi Internasional atau IOM di Medan.

Provinsi Aceh yang terletak di ujung utara pulau Sumatra telah menerima sembilan rombongan pengungsi Rohingya dalam waktu sepuluh tahun terakhir.

Sejak tahun 2015, warga Aceh dengan hangat menyambut para pengungsi Muslim itu.

Mengutip Voa Indonesia yang melaporkan bahwa bulan ini, IOM bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Aceh untuk menampung dan membantu ke-84 pendatang baru dari Myanmar itu.

“Kini, tahun 2018, ada perbedaan besar,” kata Khokar seraya menambahkan bahwa jika dulu para pengungsi bisa menggunakan kapal-kapal yang lebih besar.

“Kini mereka hanya bisa mendapat kapal-kapal kecil untuk melarikan diri,” lanjut Kokar.

Krisis pengungsi Rohingya memuncak tahun 2016, setelah kelompok militan menyerang pos polisi, dan mengakibatkan penumpasan brutal oleh tentara Myanmar. Lebih dari 600,000 orang melarikan diri dari negara bagian Rakhine, dan sebagian besar mengungsi ke Bangladesh dengan jalan kaki. Pengungsi lain menggunakan kapal-kapal dan pergi ke Malaysia, untuk bekerja sebagai buruh kasar.

Ke-9 rombongan yang tiba di Aceh itu tiba antara bulan Januari dan Mei, ketika laut tidak terlalu bergelombang.

Pengungsi Rohingya itu ditampung di fasilitas pemerintah di kabupaten Bireuen dan kini sedang dipindahkan ke kamp yang lebih permanen di Langsa. Orang-orang itu tidak didorong untuk melanjutkan perjalanan ke Malaysia, kata Khokar.[fm]

PILIHAN REDAKSI