Cadangan Devisa Negara Terkuras Demi Selamatkan Rupiah

JAKARTA (UMMAT Pos) — Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) pada April 2018 sebesar US$124,9 miliar, atau lebih rendah US$1,1 miliar dari posisi Maret 2018 sebesar US$126 miliar. Posisi cadev yang merosot sekitar 0,87 persen, ini merupakan penurunan dalam tiga bulan berturut-turut sejak Februari lalu.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman, tergerusnya cadev diakibatkan penggunaan devisa untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah yang tengah melemah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Penurunan cadangan devisa pada April 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi,” ujar Agusman dalam keterangan tertulisnya, Selasa (8/5/2018).

Kendati demikian, BI seperti dikutip CNNIndonesia mengklaim bahwa posisi cadev ini masih cukup baik untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Pasalnya, posisi cadev masih cukup untuk membiayai 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Selain itu, posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” imbuhnya.

Ke depan, lanjut Agusman, BI akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Sebelumnya, BI mengaku, memang telah menggelontorkan cadev ke pasar sebagai bentuk intervensi untuk menyelamatkan rupiah dari keterpurukan. Adapun intervensi dengan cadev itu dilakukan sejak Februari lalu, saat rupiah pertama kali menyentuh angka Rp13.700 per dolar Amerika Serikat (AS).

Setelah itu, BI terus menyatakan bahwa bank sentral nasional terus ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Meski, posisi rupiah terus melemah hingga saat ini menyentuh kisaran Rp14.000 per dolar AS.

Sementaraitu, menurut Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai pemerintah dapat membantu Bank Indonesia untuk memperoleh pasokan dolar Amerika Serikat (AS) dan memperkuat cadangan devisa yang dibutuhkan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Salah satunya, dengan menerbitkan obligasi global (global bond).

“Pemerintah seharusnya membantu (BI) dengan mempercepat penerbitan global bond. Ini salah satu cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk menambah stok dolar AS,” terang dia.

Saat ini, menurut lana, kebutuhan pasokan dolar AS di dalam negeri memang tengah tinggi seiring adanya kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri. Namun, dia memperkirakan, kondisi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya akan berlangsung hingga akhir bulan ini atau bulan depan.

“Itu dari sisi permintaan domestik, tapi tekanan rupiah kan juga sangat bergantung pada faktor global,” jelas dia. (fm/cnn)

PILIHAN REDAKSI