Indonesia Police Watch Prediksi 57 Orang Terduga Teroris Masuk Jakarta

JAKARTA (UMMAT Pos) — Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengingatkan jajaran kepolisian untuk mencermati masuknya 57 orang yang diduga sebagai jaringan teroris dari enam daerah ke ibukota Jakarta pasca kerusuhan di Rutan Mako Brimob pada Selasa, (8/5/2018).

Dari data yang diperoleh IPW, menurut Neta, sejak Jumat pukul 20.00 jaringan teroris ini sudah berada di Jakarta. Dari Kelompok Tegal ada tiga orang. Dari Kelompok Pekanbaru pimpinan Boy ada 10 orang. Mereka jalan darat dan sempat mampir di Lampung sebelum menyeberang ke Banten.

“Kelompok Karawang pimpinan Abu Sayyaf ada enam orang dengan mengendarai sepeda motor. Kelompok Cirebon terbagi dua, pimpinan Heru Komarudin ada tujuh orang dan datang dengan menyewa mobil rental dan langsung membuka posko di Depok.” ungkap Neta, Sabtu (12/5/2018).

Selanjutnya Neta juga menyebut kelompok lainnya dari Indramayu pimpinan Sutomo sebanyak tujuh orang. Kelompok Tasikmalaya yang terbagi menjadi dua; Pimpinan Rido ada 10 orang dan tiba di Jakarta dengan tiga mobil. Sedangkan pimpinan Ade Cawe ada lima orang dan datang dengan tiga sepeda motor.

“Namun kelompok Ade Cawe ini sudah berhasil diciduk polisi. Satu tewas ditembak polisi dan tiga ditangkap, termasuk Ade Cawe. Sedangkan satu lagi berhasil kabur,” tambah Neta.

Melalui Press Release-nya, IPW berharap polisi melakukan pagar betis agar kelompok teroris ini bisa segera diciduk sebelum beraksi menebar terornya.

Bagaimana pun, menurut dia, Polri perlu mengevaluasi dua kasus yang terjadi berturut turut di Mako Brimob. Buruknya profesionalisme, kacaunya kordinasi di internal polri, rendahnya kepekaan dan kepedulian aparatur kepolisian serta tidak taatnya aparatur kepolisian pada SOP dan tdk adanya pengawasan atasan terhadap kinerja bawahan adalah penyebab utama terjadinya dua tragedi di Mako brimob.

“Pernyataan Kapolri yang kaget melihat isi rutan itu over kapasitas adalah bukti nyata buruknya kordinasi dan kualitas pengawasan atasan terhadap bawahan di internal polri,” ungkap Neta.

Dalam menghadapi aksi terorisme, jajaran kepolisian dinilai perlu introspeksi dan evaluasi diri agar tidak terus menerus menjadi bulan bulanan teroris.

“Terutama pasca kerusuhan di Rutan Brimob dimana para teroris serasa mendapat angin, Polri perlu meningkat profesionalitasnya agar gerakan terorisme bisa segera dilumpuhkan,” pungkas Neta.[fm]

PILIHAN REDAKSI