Rehatlah, Pak..!

Arham Rasyid

SAAT memutuskan resign dari pekerjaan, banyak yang menyayangkan. Mengingat saya sudah ada jabatan, kinerja dan prestasi juga lumayan, gak bisa dicari gantinya katanya.
Ya, ini cukup rumit bagi saya. Sekian lama jadi orang kantoran membuat nama saya identik dengan nama perusahaan, kadang bayang-bayang perusahaan seperti Marga yang melekat di belakang nama. Kalo diistilahkan mungkin bisa dibilang “manunggaling kawula gawean”.

Banyak yang menganggap pencapaian seorang karyawan adalah bertahan hingga naik jabatan ke posisi aman, padahal pencapaian tertinggi menurut saya adalah resign dan memulai petualangan. Sorry, ini pendapat pribadi bukan teks kitab suci, jadi sah-sah saja mau atau tidaknya disepakati.

Tapi setelah mengundurkan diri, alhamdulillah ternyata kantor yang saya tinggalkan itu tetap berjalan biasa saja, dan mereka dengan cepatnya dapat pengganti saya.

Kadang ada kepuasan memantau skill pengganti saya yang beradaptasi dan berkembang dengan signifikan. Itu artinya semuanya memang harus dicoba. Sesuatu gak akan pernah ketahuan bisa atau tidaknya kalau gak pernah dimulai. Harus move on, berani ambil langkah. Karena mampetnya saluran kemajuan salah satu penyebabnya adalah ditutupnya keran kesempatan.

Nah, ini mestinya bisa diterapkan pada sebuah negara. Wacana pergantian pimpinan jangan dianggap sebagai sebuah momok yang menakutkan. Percayalah, negara akan survive siapapun pemimpinnya. Bangsa ini juga butuh penyegaran. Lebih 200 juta penduduk, mengapa kita begitu malas membuka kesempatan yang peluang keberhasilannya tetap ada?

Keliru kalo pemimpin negara dianalogikan sebagai pemimpin rumah tangga yang gak boleh diganti-ganti, padahal sudah diatur oleh konstitusi.

“ah, kau pasti pendukung si Bowo karena benci si Joko”
Kalimat picik seperti ini selalu ada, dan ini tentu saja mematikan alur diskusi. Sejak kapan kemampuan memimpin hanya dipatenkan pada dua nama? Sebegitu krisis ketokohannyakah kita? Jika kau gak setuju A, berarti kau pilih si B? Oh, belum tentu.

Jangan lupa kalo alfabet itu ada A sampai Z. Bangsa kita adalah supermarket orang-orang hebat, yg menunggu kesempatan untuk mencuat.

“kau kufur nikmat”. Ujar seseorang pendukung garis keras pemerintah ketika saya ikut berbicara soal kebijakan yang kurang terarah.

Entah kenikmatan mana yang dia maksud saat banyak dari kebijakan itu jika dilihat dari persepsi saya yg jelata ini rasanya jauh dari keberpihakan pada rakyat menengah ke bawah.

Tapi saya mencoba memakluminya saja. Karena dalam psikologi kesehatan ada istilah sadomasokis, yaitu semacam kecenderungan menikmati saat disakiti. Boleh jadi gejala itu sedang menghampiri orang ini.

“Lantas, kau sebenarnya berdiri di mana?”
Ya, gak mesti di mana-mana. Pilihan politik yg berkembang sejauh ini hanya menggiring kita pada dua nama, maka saya terpaksa menjaga netralitas dan berusaha memposisikan diri di tengah-tengah walaupun susah. Saya berpegang pada kalimat bijak “Tetaplah Netral, walau kau bukan Bagus. Jangan mau dikotak-kotak, karena kau bukan Tantri”

Meskipun begitu saya tetap mendoakan yang terbaik untuk pemimpin kita, agar senantiasa diberi kesehatan fisik dan mental, kekuatan menghadapi hujatan, dan gak lupa diberi lisan yang senantiasa dekat dengan kejujuran, serta diberi kemampuan bekerja menyelesaikan semua yg tertunda agar gak ada beban saat misalnya tahun depan terpilih seseorang yang melanjutkan.

Saya gak sepakat pada mereka yg cenderung menjegal pemimpin yg sah dengan cara kasar dan gak elegan, hanya demi harapan tertawa melihatnya gagal dalam pemilihan.
Come on.. Bermainlah dengan fair. Sebab kau bukan Sergio Ramos yang akibat perbuatannya maka Mohammad Salah terancam gak berlaga di Piala Dunia.

“Lalu apa yang kau mau?”
Bukan kemauan, melainkan saran. Saran saya buat pemimpin kita, rehatlah.
Rehat bukan berarti kalah. Rehat gak perlu menunggu datangnya lelah. Rehat sebelum beranak pinaknya masalah. Rehat dari pahitnya sumpah serapah.
Kau layak diagungkan atas beberapa keberhasilan, bukan dikacungkan oleh anak ingusan.

Seburuk-buruk pendahulu, ada masa ia dirindukan setelah gak lagi punya jabatan, dan sejarah tentu saja bisa berulang.

Lima atau sepuluh tahun ke depan niscaya kau akan terkenang, minimal dalam meme “piye kabare, enak jamanku toh?”

Jika rindu sudah tersemat, gak ada yg bisa menghalangi berhimpunnya simpatisan yg loyal dan kuat. Dan jika sudah bicara kodrat, bukan mustahil kembalinya tampuk kekuasaan seperti Mahathir Mohammad.

Rehatlah Pak, barang sejenak dua jenak. Lahan pengabdian gak mesti dengan menjabat. Banyak yang bisa diperbuat. Menghabiskan waktu dengan keluarga, membesarkan usaha, memperdalam ilmu agama, menyempurnakan retorika, kelihaian berbahasa, ngevlog kapan saja, ataupun menyalurkan hobi menonton film-film yang mungkin banyak tertunda akibat kesibukan blusukan.

Bisa juga aktif mengurus partai dengan menjadi pembina. Setidaknya pembina sedikit lebih berkelas ketimbang petugas.

Rehatlah, Pak..
Percayakan regenerasi pada mereka.
Negeri ini insyaallah akan baik-baik saja dengan pimpinan siapa saja, gak harus bapak dan pesaing yang itu-itu saja.

Karena Arsenal tetaplah Arsenal, meski gak lagi tanpa Arsene
Man City tetap Man City, meski gak lagi dilatih Mancini
Udinese tetap Udinese, meski misalnya digawangi oleh si Udin.

PILIHAN REDAKSI