Puasa Para Makhluk

Oleh: Dr. Ilham Kadir*

PUASA tidak hanya dimonopoli umat manusia. Beberapa makhluk hidup lainnya dalam fase tertentu kehidupannya dijalani dengan puasa. Ada yang dilakukan secara terpaksa karena kekurangan makanan, atau kerasnya habitat hidup seperti musim panas dan musim dingin yang terlalu.

Sebut saja, unta, ular, beruang kutub, ikan, jenis burung tertentu, serta beberapa hewan pengerat. Namun ada pula hewan berpuasa karena pilihan sendiri bukan terpaksa, mereka berpuasa dalam fase-fase tertentu, seperti serangga ketika berada dalam kepompong pada masa tertentu sampai fase baru dalam hidupnya selesai.

Usai puasa, serangga memiliki kemampuan lebih dalam beradaptasi dengan habitatnya. Sedangkan puasa bagi manusia telah ada sejak awal keberadaannya. Data ini diperkuat dengan dokumen-dokumen bersejarah dalam ukiran di atas papyrus yang ditemukan di beberapa tempat peribadatan raja-raja Firaun Mesir. Termaktub, penduduk Mesir kuno telah melakukan puasa, khususnya pada masa-masa terjadi malapetaka dan perang sebagaimana yang didoktrinkan ajaran mereka.

Penganut Hindu, Brahma, dan Budha juga telah lama mengenal ibadah puasa dan menunaikannya sesuai dengan aturan-aturan yang termaktub dalam kitab suci mereka. Bangsa Yunani, Romawi, Persia, serta seluruh umat dan bangsa kuno telah mengenal puasa.

Hal ini terbukti lewat tulisan seorang ilmuan kuno bernama Hippocrates yang hidup pada abada ke-5 sebelum masehi di zaman Yunani kuno dan mendapat gelar sebagai ‘Bapak Kedokteran’ adalah orang pertama yang menyusun tata cara berpuasa dan menemukan teori pengobatan dengan terapi puasa. Pada masa kekuasaan Dinasti Batlimus, para dokter Alexandria menganjurkan para pasiennya berpuasa untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit dan menpercepat proses recovery.

Ilmuan sekaliber Socrates pun juga memberi resep puasa pada pasien yang sakitnya sudah terlalu parah, dan ia berkomentar tentang puasa, di dalam diri kita ada tabib, kita hanya perlu membantunya dalam menunaikan tugasnya.

Pada abad ke-15 Masehi, seorang tabib Eropa bernama Lovivo Corna juga ikut menggunakan puasa untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Sebelumnya, ia mencoba mempraktikkannya pada diri sendiri, dan berhasil sembuh dari penyakit kronis yang dideritanya. Ia berumur hampir 100 tahun. Di penghujung hayat, ia mengarang sebuah buku tentang pentingnya puasa dalam mengobati penyakit, judulnya, “Siapa yang Sedikit Makan, Akan Berumur Panjang”.

Tabib muslim yang pertama kali menggunakan terapi puasa adalah bapak kedokteran, Ibnu Sina. Ia berhasil mengobati berbagai penyakit dengan resep puasa, baik pasien kaya maupun miskin. Namun, secara umum, tabib muslim yang datang setelah Ibnu Sina sudah sepakat bahwa puasa adalah cara ampuh dalam menyembuhkan beberapa jenis penyakit yang berkaitan dengan sistem pencernaan.

Resepnya cukup sederhana: puasa pada masa-masa tertentu, dan minum minuman dan makanan makanan tertentu pada waktu-waktu tertentu. Jadi puasa medis dibarengi dengan puasa syar’i. Bukan Sekadar Kewajiban Puasa bagi umat Islam adalah rangkaian dari lima rukun Islam, menempati tangga keempat. Berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Islam dibangun di atas lima pondasi: bersaksi tiada Ilah–sesembahan–selain Allah dan Muhammad utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; berpuasa Ramadan; dan jika mampu, menunaikan haji ke Baitullah di Makkah.

Puasa juga menjadi ibadah yang menjadi rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Dilakukan dengan penuh keikhlasan, tidak satupun yang dapat mengetahuinya kecuali dirinya dengan Tuhan. Pahala agung, dan sarana pendekatan (taqarrub) paling efektif pada Allah.

Berdasarkan sabda Rasulullah, juga diriwayatkan Bukhari-Muslim, Semua amalan anak Adam (manusia) itu untuk dirinya, kecuali puasa. Sebab, ia adalah buat-Ku, dan Aku sendiri yang membalasnya. Pelaku puasa, akan mendapatkan dua kegirangan, ketika ia berbuka dan di kala bertemu dengan Tuhan di hari kiamat, hal ini bersandar pada dalil, Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, Ada dua kebahagiaan bagi orang yang sedang puasa: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya.

Karena itu, puasa semestinya menjadi momen melatih kesabaran, menahan emosi, menghindari kemungkaran dan kemaksiatan. Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka sungguh Allah tidak butuh dengan puasanya, begitu sabda Nabi yang dirawikan oleh Imam Bukhari. Bahkan orang yang berpuasa dengan pertimbangan iman dan takwa akan mendapat ampunan dari segala dosa baik yang telah lewat maupun yang akan datang, sesuai sabda Nabi yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Aneka Puasa Dalam syariat Islam, terdapat beberapa jenis puasa, namun tata cara pelaksanaannya tetap sama, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta semua hal yang dapat membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan rukun dan syarat yang baku. Karena itu, jika ada puasa melebihi pengertian di atas, maka pastikan itu sebagai inovasi sesat tiada dasar. Puasa paling utama dan pertama adalah, puasa Ramadhan. Dilakukan selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan, berdasarkan firman Allah pada Surah Al-Baqarah ayat ke-185. “Barang siapa yang menyaksikan bulan Ramadhan makan diwajibkan baginya.berpuasa”.

Selanjutnya, puasa kafarat atau denda. Berupa puasa yang diwajibkan atas orang yang telah melanggar larangan syar’i tertentu sebagai pelajaran baginya, pembersih, dan bentuk taubat.

Di antaranya: puasa denda karena telah melanggar sumpah; menyamakan istri dengan ibu kandung (dzihar); melakukan suatu kesalahan saat ibadah haji; pembunuhan secara tidak sengaja; atau pasutri melakukan hubungan suami-istri pada siang hari di Bulan Puasa. Dikenal pula puasa sunnah. Puasa yang dilakukan sebagai bentuk taqarrub pada Allah sambil meraih ridho-Nya. Antaranya, puasa al-bidh, atau tiap tiga hari dalam hitungan bulan Islam (Qamariyah) pada tanggal 13, 14, dan 15; puasa arafah bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji; puasa asyura (10 Muharram); puasa enam hari di bulana Syawal, hingga puasa Senin Kamis tiap minggu.

Dijadikannya puasa sebagai kewajiban maupun sunnah menandakan kasih sayang Allah pada hamban-Nya. Selain berpahala dan dijanjikan surga bagi pelakunya, puasa juga akan mendatangkan manfaat keduniaan, termasuk menekan pengeluaran, meningkatkan kepekaan sosial, bahkan dapat menyehatkan tubuh, jiwa dan fikiran. Namun, tujuan utama puasa adalah menjadikan pelakunya sebagai orang bertakwa. Sebuah tingkatan spritual yang akan membawa pelakunya menjadi mulia dunia akhirat. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling betakwa di antara kalian, (QS. 49: 13), di antara ciri-ciri yang melekat pada manusia bertakwa adalah, melaksanakan seluruh perintah Allah berdasarkan apa yang telah digaris dan dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, selain senantiasa menjauhi segala larangan Allah, termasuk yang syubuhat.

Maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme hanya dapat diatasi dengan pendekatan ketakwaan. Jika binatang saja berpuasa, baik terpaksa maupun sukarela. Maka selaku makhluk paling mulia di bumi, kita manusia semestinya malu jika tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Wallahu A’lam!

Senin 12 Ramadhan 1439 H/28 Mei 2018.

*Wakil Ketua Ikatan Alumni Beasiswa Baznas/Dosen STKIP Muhammadiyah Enrekang

PILIHAN REDAKSI