PDIP diingatkan belajar pada FPI yang sering jadi bulan-bulanan media mainstream

JAKARTA (Ummat Pos) – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sudah selayaknya belajar bagaimana bersikap terhadap media, tanpa mencederai kebebasan pers. Hal itu disampaikan Ketua Umum Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Muhammad Pizaro.

Komentar Pizaro disampaikan menanggapi insiden massa PDIP yang diduga melakukan tindakan kekerasan dan anarkisme terhadap kantor media Radar Bogor yang memuat berita berjudul, ‘Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp 112 Juta’.

“PDIP itu kan partai yang dipilih oleh masyarakat, apalagi sekarang menjadi partai yang berkuasa seharusnya memberikan keteladanan. Jika selama ini PDIP suka mengkritisi Ormas-Ormas yang bertindak anarkis, ujaran kebencian, tindak kekerasan dan berperilaku radikal, jangan sampai hal itu justru terjadi di tubuh PDIP itu sendiri,” kata Pizaro kepada seperti dilansir laman Panjimas.com, Kamis (31/5/2018).

Untuk itu, PDIP seyogyanya melihat bagaimana sikap Ormas Islam yang selama ini menjadi bulan-bulanan media mainstream.

“Kepada siapa saja, PDIP itu seharusnya belajar, bagaimana menyampaikan pendapat atau opini, tanpa melakukan tindakan kekerasan,” ujarnya.

Pizaro mencontohkan bagaimana para tokoh Front Pembela Islam (FPI) yang mendatangi Kompas, pada Kamis (16/6/2016) untuk melakukan klarifikasi terhadap framing (pembingkaian) berita Kompas yang dinilai anti terhadap Syariat Islam terkait kasus razia warteg saat Ramadhan di Kota Serang, Banten.

Sejumlah Ormas Islam juga menempuh berbagai mekanisme hukum, terkait pemberitaan The Jakarta Post yang melecehkan simbol Islam, lewat karikatur yang dicetak pada edisi 3 Juli 2014 halaman 7. Di dalam karikatur itu terdapat kalimat “Laa ilaaha illallah” di atas gambar tengkorak. Pihak The Jakarta Post akhirnya menyampaikan permohonan maaf di media.[fm/aw]

PILIHAN REDAKSI