Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Soroti Sikap Sebagian Warga Dayah Atas Masjid Raya Samalanga

BIREUN, ACEH (UMMAT Pos) — Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan apresiasi atas keteguhan warga Muhammadiyah di Samalanga Bireun Aceh. Namun, Ia juga mengaku prihatinan atas sikap sebagian kelompok dayah (masyarakat tradisional) yang memaksa merombak Masjid Taqwa yang mereka tuduh sebagai masjid Wahabi.

“Ketika melihat deretan Foto dan narasi yang dikirimkan, Ketua Pimpinan Daerah Bireun, dr Atahilah Latief, hati saya bergetar, tak sadar saya menitikkan air mata , kagum dan hormat kepada warga Muhammadiyah Samalanga Bireun,” katanya kepada Ummat Pos, Selasa, (26/6/2018).

Dalam kunjungannya ke Bireun, Dahnil mengaku sempat mendengar langsung keluh kesah warga setempat. “Teringat bisik seorang tua renta warga Muhammadiyah Samalanga; ‘Nak, bantu kami ya, kami mau ada Masjid Taqwa disini, dan akan terus berjuang,'” katanya menirukan ucapan warga tersebut.

Warga di sekitar masjid dituduh berpaham Wahabi karena tidak membaca doa qunut dalam shalat dan dianggap tidak bersesuaian ibadahnya dengan mazhab syafii dan Ahlul sunnah wal jamaah.

“Prilaku yang jamak sekarang terjadi di Aceh, di mana kelompok-kelompok Dayah (Pesantren Tradisional) memaksa merombak pengurus Masjid yang mereka anggap ada orang Muhammadiyah yang mereka tuduh Wahabi, sama seperti terjadi di Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh,” lanjut Dosen Tetap Fakultas Ekonomi, Univ. Negeri Sultan Ageng Tirtayasa Banten ini.

Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di Masjid Taqwa di Kecamatan Juli, di Kabupaten yang sama yakni Bireun.

Warga Muhammadiyah Samalanga, Bireun, Nangroe Aceh Darussalam kemudian membangun kembali Fondasi Masjid yang dulu sempat dibakar oleh sekelompok orang yang tidak siap berbeda.

‘Pembakarnya belum ditangkap sampai sekarang oleh Polisi meski warga tahu siapa pelakunya. Bahkan, ketika sedang melakukan gotong royong mereka sempat didatangi Muspika (Kepolisian dan camat) Samalanga yang meminta kerja dihentikan,” urai pria yang akrab disapa Anin ini.

Warga Muhammadiyah setempat menolak dan tetap melanjutkan gotong royong, karena mengklaim pembangunan masjid sudah mendapat IMB dan Izin lainnya.

“Malam tadi, terjadi upaya penyerangan oleh 70-80 orang anak muda terhadap lokasi pembangunan Masjid Taqwa Samalanga, dan Syukur Alhamdullilah bisa digagalkan oleh pihak kepolisian,” tambahnya.

Untuk menghindari kembali dibakar, warga Muhammadiyah cabang samalanga berjaga malam, secara bergantian dan InsyaaAllah hari ini kembali bergotongroyong membangun Masjid yang mereka cita-citakan. Di bawah penjagaan aparat keamanan.
Saya kagum dengan militansi warga Muhammadiyah Samalanga.

“Bapak-bapak bergotong royong membangun kembali Masjidnya dibawah ancaman pembunuhan dan perusakan, sementara Ibu-ibu Aisyiyah bergotong royong menyediakan makanan dan Minuman,” kata Dahnil.

Pria kelahiran Aceh Timur ini juga mengungkapkan keprihatinannya bahwa disebabkan warga Muhammadiyah yang minoritas disana, maka dukungan politisi untuk datang ikut mendukung dan melindungi mereka secara politik disana menjadi sulit diharapkan.

“Karena tidak ada keuntungan elektoral, karena sejatinya bagi mereka toleransi adalah komoditi bukan nilai, ini yang saya sebut sebagai toleransi rente, bukan Toleransi yang otentik yang seharusnya kita rawat bersama,” ungkapnya.

Menurutnya, ada ancaman serius sikap Intoleran di Aceh, yang harus diselesaikan dengan 2 cara, edukasi terhadap masyarakat dan tokoh ulama disana dan kedua tentu penegakan hukum dengan tidak membiarkan prilaku-prilaku anarkis massa tanpa penegakan hukum yang tegas.[fm]

PILIHAN REDAKSI