DK PBB Gagal Capai Kesepakatan Terkait Eskalasi Militer di Barat Laut Suriah

NEW YORK (UMMAT Pos) — Dewan Keamanan PBB pada Kamis malam(6/7) gagal mengeluarkan pernyataan atau laporan tentang operasi militer yang diluncurkan oleh rezim Suriah dan sekutu-sekutunya terhadap warga sipil di Suriah barat daya.

Buntunya pembahasan tersebut akibat perbedaan pendapat di antara negara-negara anggota atas akurasi angka-angka jumlah warga yang dipindahkan.

Pembahasan situasi Suriah dan Yaman berlangsung lebih dari tiga setengah jam hingga perwakilan tetap Rusia untuk PBB Vasily Nabyzia menolak konferensi pers terkait pertemuan tersebut.

“Mereka telah menyebutkan angka para pengungsi Suriah sementara kami memiliki banyak persoalan terkait kehadiran mereka,” katanya kepada wartawan.

Olof Skoog, Presiden Dewan, perwakilan Swedia untuk PBB, menyampaikan keinginannya kepada wartawan di akhir sesi pertemuan tersebut untuk dapat berbicara dalam pernyataan pers terkait situasi di Suriah, namun ia mengaku berada dalam posisi sulit untuk berbicara dalam kapasitas sebagai Presiden Dewan Keamanan.

Sementara itu, Duta Besar Swedia, yang juga memegang posisi yang turut menentukan mengatakan bahwa pertemuan itu terdapat perselisihan mengenai jumlah pengungsi yang dipengaruhi oleh tindakan militer di Suriah barat daya.

Menanggapi pertanyaan dari wartawan tentang angka-angka yang dilaporkan oleh direktur Kantor Urusan Kemanusiaan, “John Gineg” selama konsultasi tertutup, duta besar Swedia mengatakan bahwa negaranya tidak dapat memastikan angka-angka itu, tanpa memberikan sensus yang tepat tentang jumlah pengungsi.

“Dewan Keamanan, Sekretaris Jenderal dan Kantor Urusan Kemanusian akan terus mengikuti situasinya dengan seksama,” lanjutnya.

Ia melanjutkan: “Kami telah menyatakan keprihatinan kami (selama sesi tertutup) atas situasi kemanusiaan di selatan-barat Suriah, dan juga pada proses politik di sana. Telah ada konsensus di antara para anggota Dewan yang membutuhkan pihak-pihak terkait agar menghormati hukum kemanusiaan internasional, dan menjamin perlindungan warga sipil dan fasilitas sipil seperti sekolah dan rumah sakit.”

Pada 20 Juni, rezim Suriah, didukung Rusia dan milisi Syiah yang loyal melancarkan serangan udara dan darat yang intens ke wilayah selatan Daraa. Akibat serangan tersebut, lebih dari 150.000 orang terpaksa melarikan diri menuju perbatasan Yordania dan Israel.

Wilayah Suriah barat daya, termasuk Daraa, Quneitra dan Suwayda, adalah bagian dari “pengurangan eskalasi” yang dibentuk pada Juli 2017, seperti yang disepakati oleh Rusia, Amerika Serikat dan Yordania.

Laporan: Saifullah Abubakar

Editor: Faisal

PILIHAN REDAKSI