Menanti Khalifah Jusuf Kalla

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA.*

DITILIK dari sudut bahasa, ‘khalifah’ adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, posisinya sebagai ‘subjek’ yang berarti ‘pengganti’. Sedangkan kata kerjanya, jika ditelusuri dengan ilmu morfologi adalah ‘khalafa-yakhlufu’ atau mengantikan.

Sedangkan khalifah secara istilah adalah pengganti Nabi Muhammad Shallallahu ‘ Alaihi Wasallam sebagai pemimpin umatnya, dan secara kondisional juga menggantikannya sebagai penguasa sebuah entitas kedaulatan Islam. Sebagaimana diketahui bahwa Muhammad selain sebagai Nabi dan Rasul juga sebagai Imam, Penguasa, Panglima Perang, dan lain sebagainya.

Secara umum, Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk merawat dan memberdayakan bumi beserta isinya.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Para Malaikat protes, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Allah lalu berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:30).

Kata khalifah menurut para mufassir dalam ayat di atas adalah pengganti, pemimpin, atau penguasa. Kecuali itu, ayat ini menjelaskan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi yaitu manusia diberi tugas untuk memelihara dan melestarikan alam, menggali, mengelola, dan mengolah kekayaan alam untuk dimanfaatkan demi kesejahteraan segenap manusia dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Untuk mewujudkan tugas yang mulia tersebut, manusia selama hidup di dunia diwajibkan meningkatkan kemampuannya baik fisik maupun rohaninya kearah yang lebih maju baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi.

Dalam menjalankan tugas hidupnya manusia diharuskan menjauhi sifat-sifat yang buruk yang menjadi penyebab kerusakan tata hubungan antara manusia seperti pertumpahan darah maupun kerusakan alam. Oleh karena itu senantiasa manusia dianjurkan selalu ingat kepada Allah dengan berzikir, bertasbih, dan selalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjahui segala larangan-larangan-Nya.

*

Maka khalifah yang saya maksud dalam judul di atas adalah pengganti, lebih khusus pengganti posisi Muhammad Jusuf Kalla yang lebih masyhur dengan sapaan JK.

Kasak-kusuk siapa yang dapat menduduki posisi JK pada Pilpres 2019 kian marak dibahas. Lebih khusus setelah MK menolak gugatan bagi mereka yang tetap menginginkan Jokowi dan JK kembali paket dalam Pilpres tahun depan.

JK yang menyatakan diri ingin pensiun dari hiruk-pikuk politik praktis memang membutuhkan pengganti. Tapi mencari orang yang punya kapasitas seperti wakil presiden kesepuluh dan keduabelas itu sungguh tidak mudah. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Namun setidaknya ada beberapa nama yang layak dipertimbangkan sebagai bagian dari khalifah atau pengganti JK dalam pentas nasional. Namun dengan catatan, bahwa tokoh-tokoh tersebut hanya dapat memenuhi sisi-sisi tertentu dari seorang JK. Saya hanya menurunkan tiga tokoh yang punya peluang menggantikan kiprah JK di pentas nasional, mereka adalah:

Pertama: Abraham Samad. Pria yang lahir di Makassar pada pada 27 Nopember 1966 ini layak dipertimbangkan sebagai suksesor JK. Kiprahnya dalam ranah pemberantasan korupsi cukup menonjol, khususnya ketika ia menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi priode 2011-2015.

Pembawaannya yang santai dan apa adanya menjadikan sosok Abraham Samad sebagai tokoh yang cukup disegani, dan diidolakan banyak generasi muda.

Pria lulusan Fakultas dan konsentrasi hukum dari S1 hingga S3 Unhas ini dinilai punya kapasitas untuk terus berkiprah di kancah nasional dengan posisi yang strategis, seperti menteri dan wakil presiden. Bahkan Abraham sudah jauh melangkah, ia telah mendeklarasikan diri sebagai salah satu calon presiden RI, deklarasi dilakukan di di Anjungan Pantai Losari pada 7 Mei 2018.

Dalam deklarasi tersebut, Abraham menyampaikan pidato dan gagasannya, katanya, Korupsilah yang membuat rakyat kita kehilangan haknya. Korupsilah yang membuat petani kita kehilangan sawahnya. Korupsilah yang membuat masyarakat adat kita kehilangan hutannya. Korupsilah yang membuat nelayan kita kehilangan lautnya. Korupsilah yang membuat buruh kita kehilangan haknya. Korupsilah yang membuat ibu-ibu kita kehilangan dapurnya. Korupsilah yang membuat bocah-bocah kita kehilangan keceriaannya. Korupsilah yang membuat dewi keadilan kehilangan ketimbangannya. Korupsilah yang membuat negara kehilangan wibawanya. (Tribunnews.com, 7/5/2018).

Kedua: Muhammad Anis Matta, atau akrab dengan sebutan Anis Matta, adalah seorang cendikian muslim, ulama, dan politisi ulung. Lahir di Kabupaten Bone pada 7 Desember 1968, atau dua tahun lebih muda dari Abraham Samad.

Dari sisi pendidikan formal, Anis Matta tergolong biasa-biasa saja. Kemungkinan besar, ada dua lembaga pendidikan yang menempa Anis menjadi ulama dan intelektual, Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Pria praktik poligami ini pernah mengikuti program American Council for Young Political Leader (ACYPL) di Amerika, serta alumni kursus singkat angkatan ke-9 Lemhanas.

Yang menunjukkan bahwa Anis Matta adalah seorang ulama intelektual dapat dilihat dari karya-karyanya. Beliau sangat produktif menulis, yang gaya tulisannya khas, pemilihan diksi yang unik, materinya kaya gagasan, penuh makna lagi mendalam. Siapa pun yang pernah membaca goresan tintanya, pasti akan terkagum dan berkata, penulisnya seorang visioner.

Hingga detik ini, sudah puluhan karya telah dihasilkan oleh seorang Anis Matta, antara lain adalah: Mencari Pahlawan Indonesia (2004); Dari Gerakan Menuju Negara (2006); Integrasi Politik dan Dakwah (2007); Serial Cinta (2008); Delapan Mata Air Kecemerlangan (2009); Momentum Kebangkitan (Kumpulan Pidato) (2014).

Selain sebagai penulis produktif, Anis Matta adalah seorang singa panggung, dan seorang motivator ulung. Penguasaan materi dan gaya bahasa panggungnya sangat khas, sehingga para pendengar selalu terkesima. Artikulasi katanya jelas dan substansi pembahasan sangat muda dicerna dari para kalangan aktivis. Ia adalah pemimpi sekaligus pemimpin yang menguasai masalah. Rekam jejaknya sebagai pemimpin tertinggi dalam partai menunjukkan bahwa pria Bugis ini adalah problem solver.

Ia merupakan salah satu pendiri dan peletak dasar Partai Keadilan tahun 1999 yang berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera pada 2 Juli 2003. Pria bersuku Bugis ini menjadi sekretaris jenderal sejak partai berdiri hingga diangkat oleh Majelis Syuro PKS menjadi presiden partai pada 1 Februari 2013 – 10 Agustus 2015.

Kelayakan Anis Matta sebagai figur muda yang dinilai mampu menggantikan posisi JK di pentas nasional memang tak terbantahkan. Bahkan relawan telah terbentuk untuk melakukan sosialisasi, memasarkan Anis Mattas sebagai calon pemimpin masa depan. Hal ini terbukti ketika Rapat Akbar Relawan mendeklarasikan Anis Matta Sebagai salah satu calon presiden RI 2019 di Tribun Lapangan Karebosi Makassar (4/3/2019).

Ketiga: Bachtiar Nasir. Pria Bugis kelahiran Jakarta 26 Juni 1967 ini, atau lebih muda setahun dari Abraham Samad dan lebih tua setahun dibanding Anis Matta. Lelaki yang memperistri wanita Minang ini memiki tiga putra.

Ustad Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN adalah sosok ulama intelektual penggerak. Setiap orang yang pernah bertemu dengan dirinya pasti menyimpan kesan yang mendalam.

Dari sisi keilmuan, UBN kemungkinan besar tercelup dari tiga fase dalam hidupnya. Ketika berada di Pondok Modern Gontor Ponorogo di bawah asuhan dan didikan langsung Imam Zarkasyi, di Pondok paling berpengaruh ini, menempa hidupnya menjadi bibit unggul ulama yang aktif bergerak, dan siap mengabdi dalam kondisi apa pun. Karena itu, setelah selesai masa pendidikan dan pengabdian di Gontor, UBN hijrah ke tanah Bugis. Sambil menelusuri jejak keluarganya di daerah Bone Selatan, ia juga punya tujuan utama, berguru kepada seorang ulama sufi.

Ulama ahli tasawuf antiterekat dimaksud adalah Anregurutta Haji Lanre Said, saat itu ia merintis pondok pesantren dengan sistem mangngaji tudang bernama Majelisul Qurra’ wal Huffazh. Ketika UBN dan kawan-kawan datang dari Gontor, pesantren yang dinakhodai mantan Ketua Pengadilan Tinggi DI-TII itu diubah dengan sistem modern, merujuk pada sistem dan metode yang terdapat di Gontor. Diganti dengan nama Pondok Pesantren Darul Huffazh, yang model pendidikannya mengadopsi Kulliatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI) seperti Gontor.

UBN adalah pelopor perubahan di Pesantren Darul Huffazh Tuju-Tuju Bone, sebelum akhirnya meneruskan pendidikan di Islamic University Madinah. Inilah fase akhir dalam pengembaraan menuntut ilmu bagi seorang UBN.

Ketika ilmu dan pengalaman telah menyatu, itulah yang menjadi bekal untuk tampil mengarahkan umat ke jalan dakwah. Ia pun membentuk komunitas kajian Alquran dengan nama Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center yang berpusat di Tebet Jakarta. Juga mendirikan beberapa sekolah unggulan dari SD hingga perguruan tinggi.
Kecuali itu, tokoh yang kita perbincangkan ini adalah sosok pemersatu, ia sering menyebut dirinya sebagai “tukang jahit” karena kegigihannya dalam mempersatukan ummat. Menurutnya, yang paling dibutuhkan ummat Islam saat ini adalah persatuan, dan itu ibarat menyambung antar satu sobekan kain dengan lainnya. “Memang memerlukan pengorbanan dalam menyatukan ummat, tapi ummat akan menderita jika terjadi perpecahan, dan tentu saja korbannya akan lebih besar,” katanya suatu ketika.

UBN adalah orator ulung, mampu membius para jamaah dengan narasi dan suara yang menggebu. Tapi di lain pihak, ia juga seorang humoris, bahkan dakwah-dakwahnya terkait problrmatika rumah tangga sangat digandrungi ibu-ibu sosialita. Ustad yang pandai menulis dan membaca aksara lontara Bugis ini juga penulis produktif, tahun 2017 terpilih sebagai tokoh buku dari Islamic Book Fair. Beberapa karyanya menjadi Best Seller. Di antara karyanya yang sudah beredar luas adalah: Tadabbur Al-Qur’an: Panduan Hidup Bersama Al-Qur’an; Panduan Hidup Bersama Al Qur’an; Anda Bertanya Kami Menjawab Bersama Ustadz Bachtiar Nasir; Masuk Surga Sekeluarga; Tadbir Rabbani.

Dalam dunia aktivis, UBN adalah motor penggerak massa 212 (2016) di Jakarta yang tergabung dalam Gerakan Pembela Fatwa Ulama (GNPF). Ia juga Sekertaris Jenderal sekaligus inisiator MIUMI, Pengurus MUI dan Muhammadiyah, serta berbagai pergerakan dakwah lainnya.

Melihat kiprahnya dalam kancah nasional begitu besar, khususnya dalam ranah dakwah, maka tidaklah berlebihan jika sosok UBN mampu menjadi khalifah JK pada waktu mendatang.

Ketiga nama tersebut tentu saja terlalu dini untuk mengklaim sebagai pengganti JK, namun tidak ada salahnya jika orang Sulawesi turut berbangga karena selalu ada tokoh yang mampu berkiprah dalam kancah nasional. Itu artinya regenerasi pemimpin Bugis tidak pernah putus. Kita akan tunggu, mampukah ketiga tokoh di atas menjadi khalifah bagi JK. Wallahu A’lam!

Enrekang, 5 Juli 2018

*)Peneliti MIUMI Pusat; Dosen STKIP Muhammadiyah Enrekang

PILIHAN REDAKSI