Mengapa orang-orang Arab menyukai Erdogan?

PRESIDEN Recep Tayyip Erdogan populer di dunia Arab, dari Barat ke Timur, bahkan mungkin lebih dari yang ada di Turki sendiri. Orang-orang Arab melihat Erdogan sebagai pemimpin umat, tidak hanya Presiden Turki. Banyak yang tenggelam dalam perdebatan dan pertanyaan tentang alasan popularitasnya yang luas di antara audiensi yang tidak mengerti bahasa Turki atau telah terpapar oleh media Turki untuk mempengaruhi pendapat mereka.

Orang-orang Arab menyebarkan berita dan cerita tentang Erdogan, seolah-olah mereka menceritakan kisah-kisah pahlawan besar Muslim seperti Umar Bin Abd Al-Aziz, Salah Al-Din atau Saif Ad-Din Qutuz. Meskipun banyak yang dikatakan orang tentang dirinya adalah fantasi atau impian, hasilnya adalah Erdogan memiliki popularitas yang tidak pernah dimiliki oleh pemimpin Arab atau Muslim dalam beberapa dasawarsa. Beberapa bahkan menyebut dia sebagai Khalifah Utsmani atau penerus Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Kesultanan Ottoman dari 1876 sampai ia meninggal pada 1918.

Hubungan logis antara Erdogan dan Sultan Abdul Hamid yang ada di benak banyak orang Arab memiliki asal-usul historis, tentu saja, dalam kebijakan yang diadopsi oleh Ottoman untuk memperkuat hubungan antara Muslim. “Kita harus memperkuat ikatan kita dengan umat Islam lainnya di mana pun,” kata Sultan, “dan kita harus menjadi lebih dekat, karena tidak ada harapan di masa depan tanpa persatuan.” Ini adalah kebijakan yang sama yang diyakini oleh Erdogan pada saat ini.

Sejumlah faktor yang berbeda membantu membuat Presiden Erdogan begitu populer di dunia Arab. Sebagai permulaan, sejak dia dan partainya berkuasa pada tahun 2002, ekonomi Turki telah meningkat. Selama periode antara 2002 dan 2011, pertumbuhan ekonomi rata-rata di negara itu 5,2 persen. Dan sekarang telah meningkat selama 6 tahun terakhir menjadi 6,7 persen, yang telah memungkinkan Turki untuk bergabung dengan G20. Dalam 17 tahun dengan Erdogan di pucuk pimpinan, Turki telah menempati peringkat ke-17 di dunia dalam hal capaian ekonominya, yang secara alami tercermin pada kesejahteraan warganya dan kehidupan sehari-hari mereka.

Erdogan dan partainya, untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki modern, mengakhiri kekuasaan militer dan dominasi para jenderal. Ini segera mengurangi tingkat korupsi di negara ini. Banyak negara Arab menderita dominasi militer serupa atas pemerintah mereka, di mana bahkan seorang perwira berpangkat rendah di badan-badan intelijen atau tentara mampu mencabut keputusan pemerintah atau parlemen untuk keuntungan pribadinya.

Presiden Turki berasal dari keluarga miskin yang tinggal di pedesaan, dan latar belakang ini menarik bagi sebagian besar orang Arab. Keluarganya pindah ke Istanbul untuk mencari kehidupan yang layak. Sebagai seorang anak, Erdogan dipaksa untuk bekerja sebagai penjual keliling di gang-gang miskin di Istanbul menjual semangka dan roti Turki yang disebut “Simit” sehingga ia dapat membantu ayahnya dan keluarganya, dan memiliki martabat dalam hidup. Sedangkan, orang-orang Arab tidak pernah mengenal seorang presiden, baik sebelum maupun sesudah revolusi, seorang pemimpin yang tidak tidur di sutra dan membuat kelompok yang korup yang selalu siap untuk mengintimidasi orang-orang.

Satu hal yang penting, Erdogan telah membuka pintu Turki untuk 3,4 juta pengungsi Suriah, serta puluhan ribu orang Mesir, Libya, Yaman dan orang Arab lainnya pada saat negara-negara lain menutup pintunya. Dalam nada yang sama, Turki saat ini menampung 72.000 mahasiswa asing, sebagian besar orang Arab, dan kebanyakan dari mereka belajar dengan hibah dari pemerintah Turki, sedangkan banyak negara-negara Arab belum memberikan anak-anak mereka pendidikan gratis. Selama satu tahun terakhir saja, 83.000 pelajar Arab telah mengajukan permohonan beasiswa untuk belajar di universitas-universitas Turki, sementara kami belum mendengar tentang negara Arab mana pun menarik begitu banyak siswa dengan menawarkan hibah atau prosedur lainnya.

Selain itu, sebagian besar warga negara Arab dapat memasuki Turki tanpa batasan atau visa. Ini sangat berbeda dengan situasi warga Arab yang mencoba pindah dari satu negara Arab ke negara lain yang menghadapi persyaratan visa dan hambatan lain di perbatasan.

Ketika Israel membunuh sembilan warga Turki di atas kapal Mavi Marmara di Gaza Freedom Flotilla pada tahun 2010 (yang kesepuluh meninggal kemudian karena luka-lukanya), hubungan antara Ankara dan Tel Aviv diputus selama lima tahun. Namun, ketika Israel membunuh warga Arab di tanah Arab – Palestina – hubungan antara pemerintah dan Tel Aviv “tenang” selama lima bulan, bukan lima tahun, dan kemudian kembali normal.

Akhirnya, di Turki yang demokratis di bawah Erdogan, seorang pria yang dipenjarakan dan dituduh melakukan tindakan terorisme dan kekerasan, Selahattin Demirtaş, mampu berdiri sebagai kandidat dalam pemilihan presiden baru-baru ini. Di dunia Arab, yang terjadi sebaliknya, dimana presiden digulingkan, ditangkap, dipenjarakan, dan dihilangkan secara paksa. Di Turki, seorang tahanan dapat menjadi presiden, sementara di “negara demokrasi” Arab, presiden dapat menjadi tahanan, dan semua kotak suara dapat dibuang, seolah-olah pemilihan tidak pernah benar-benar terjadi.

Untuk semua alasan ini, orang-orang Arab menyukai Erdogan, dan mereka berbondong-bondong untuk tinggal di Turki. Itulah mengapa mereka juga mengikuti pemilihan presiden dan parlemen bulan lalu di sana seolah-olah peristiwa itu mengambil tempat di ibukota Arab yang paling penting. Mereka tidak hanya memahami bahwa itu adalah satu-satunya pemilu yang adil di kawasan ini, tetapi juga percaya bahwa Turki menjadi faktor penting dalam menentukan nasib daerah itu sendiri. Presiden Recep Tayyip Erdogan memiliki banyak sekali dampak.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Arab di Arabi21 pada 3 Juli 2018

Oleh Mohammad Ayesh

Sumber: middleeastupdate.net

PILIHAN REDAKSI