Ustadz Juga Manusia

“Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku”
(Umar bin khattab Radhiyallahu’anhu)

SEBUAH istilah yang seringkali terdengar bahwa ‘ manusia tempatnya salah dan khilaf’. Benar bahwa didunia ini tidak ada sejatinya yang sempurna, kecuali yang menciptakan makhluk yang tidak sempurna ialah Allah Azza Wa Jalla dan Rasul pilihanNya Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan sangat lemah hal tersebut bahkan telah Allah sebutkan didalam Al-Qur’an yang artinya:

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (Terjemahan QS. An-Nisa: 28).

Kita mungkin bisa menyaksikan bagaimana tidak berdayanya manusia, ketika sakit terbaring lemah tak ada daya dan upaya, atau paling minimal saat kesibukan dunia begitu padat dengan pekerjaan, maka setelah pekerjaan itu usia, disaat itulah manusia seringkali akan lemah dan lesuh.

Belum lagi pada momen tertentu ketika tubuh manusia tidak mampu menyelesaikan satu urusan, itu artinya Ia lemah hingga harus membutuhkan pertolongan orang lain. Dan kita melihat bagaimana manusia meregang nyawa? Saat malaikat maut akan mencabut nyawanya, Bagaimana Allah memperlihatkan betapa manusia itu lemah, Ketika betis bertaut dengan betis, ketika nafas tersengal, nyawa pun akhirnya di kerongkongan.

Lalu bagaimana dengan urusan jiwa yang tidak kalah lemah? Tentu kita mengenal istilah dzahir (yang tampak) dan batin (yang tidak tampak), kedua unsur yang berada dalam diri manusia ini tidak akan pernah terpisahkan. Ada manusia yang terlihat kuat dihadapan manusia lainnya, tetapi sesungguhnya Ia rapuh karena jiwa nya yang tiada tentram dan aman, ada pula yang sebaliknya fisik yang lemah tetapi karena jiwanya kuat sehingga membuatnya tegar menghadapi ujian kehidupan sesulit dan seberat apapun.

Begitulah manusia bahkan yang disebut sebagai ulama/ ustadz karena Ia hanya manusia biasa juga tetaplah akan merasakan satu titik lemah; fisik maupun ruhiyah. Ilmu yang banyak, hafalan Al-Qur’an dan hadist yang banyak tentu tidak menjamin kekuatan orang-orang yang berilmu itu untuk tidak terjatuh dalam pikiran dan lisan yang lemah.

Seperti yang dikisahkan dalam hadist Nabi shallallahu’alaihi wasallam, Dari Said Al Khudri bahwa ada orang yang menggugat Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam dalam pembagian zakat, Ia berkata kepada Nabi: Wahai Rasulullah bertaqwalah kepada Allah.” Khalid bin Walid langsung minta izin kepada Nabi untuk memenggal lehernya, Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Boleh jadi dia shalat”. Khalid berkata, “Berapa banyak orang yang shalat tetapi ucapannya tidak sesuai dengan perbuatannya.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda “Aku tidak diperintah untuk membedah hati orang dan membelah dada mereka.” [HR. Mutafaq ‘Alaih]

Kisah Sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang terjatuh dalam kealpaan juga membuktikan bahwa mereka lemah. Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu adalah manusia biasa, yang berbeda hanyalah ketakwaan dan keimananya yang lebih tinggi daripada kita, termasuk dari orang-orang yang disebut cintanya sangat tinggi kepada Allah, hatinya senantiasa dihiasi Kalamullah dan giat berlomba-lomba dalam ketaatan ialah para murobbi, ulama, ustadz yang hari-harinya diiringi oleh perhatian agar manusia lainnya berhijrah dijalan Allah.

Mereka telah berjasa, menyampaikan ilmu diatas bashirah ditengah kumpulan manusia yang haus akan hidayah dan ilmuNya. Mereka mengharap Allah Ridho dengannya, mencurahkan kasih sayangnya ditengah kehidupan dunianya yang berliku pada maksiat dan dosa yang tak terhitung lagi jumlahnya. Mereka mencari perantara manusia lainnya agar kiranya sudi menguatkan batinnya dalam proses berhijrah; ustadz begitulah panggilan yang disematkan oleh mereka yang dulu jauh dari Allah dan RasulNya hingga hari ini ingin berbenah diri dan mencari ilmuNya.

Menjadi seorang ulama/ustadz/ murobbi juga tidak akan terlepas dari kekhilafan, manusia biasa yang juga makan, minum ,tidur dan beraktivitas sama dengan manusia lain, bukan dari kalangan Malaikat.

Maka jika kita mendengar dan merasakan ada kekurangan yang tampak pada lisan dan pikirannya, apa yang dapat dipetik kecuali kebaikan ilmu dan adabnya semata dan membuang jauh keburukan dan kekhilafaannya. Mencari kesalahan manusia memang adalah fenomena yang sudah sangat lazim dan mencoba untuk meluruskan dan memaafkan kealpaan masih menjadi pekerjaan berat bagi sebagian orang, seolah-olah diri sendiri adalah manusia paling bersih.

Oleh karena itu jikalau seorang penyampai kebenaran seperti ustadz jatuh dalam kesalahan, maka mengoreksi kesalahan dengan cara adab dan akhlak yang lembut adalah hadiah terindah bagi orang-orang berilmu, tidak dengan menyudutkan dan menyalahkan secara berlebihan, dengan begitu bisa jadi kita termasuk orang-orang yang sibuk dengan aib orang lain dan mengganggap diri lebih baik.

Berkatalah yang baik atau diam. Kenikmatan berbicara yang Alllah Ta’ala berikan kepada manusia harus disyukuri dengan menggunakannya pada perkara-perkara yang baik bukan lagi digunakan untuk sibuk mencari kesalahan orang lain, tanpa disadari kita lupa mencium aroma kesalahan diri sendiri. Menjadikan tempat cemohan, tempat untuk menghakimi, tempat untuk menilai karakter seseorang hanyalah kesia-siaan belaka, dan yang lebih baik sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam: “Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Muttafaq ‘Alaihi)/ Wallahu’alam

Penulis: Fauziah Ramdani (Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia Pusat)

PILIHAN REDAKSI