Kasus kelaparan di Maluku Tengah: ‘Mereka bertahan hidup makan daun’

MALUKU TENGAH (UMMAT Pos) — Pemerintah dalam hal ini pihak Kementrian Sosial akan mengirim bantuan makanan dan lainnya kepada warga di pegunungan Morkelle di Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Provinsi Maluku, yang dilanda kelaparan.

“Insyaallah bantuan mulai disalurkan Rabu,” kata Menteri Sosial Idrus Marhan, dalam keterangan di Jakarta, Selasa, (24/07).

Bantuan awal makanan dan lainnya diperkirakan baru tiba pada Kamis (26/07).

Setidaknya tiga orang anggota komunitas adat terpencil Mause Ane meninggal dunia akibat kekurangan makanan karena gagal panen. Dua diantara korban meninggal masih balita.

Kelaparan yang dialami oleh sekitar 170 warga komunitas adat terpencil itu dilaporkan terjadi sejak awal Juli lalu, tetapi baru diketahui oleh pemerintah setempat kira-kira dua pekan kemudian.

Agar tidak mati kelaparan, sebagian warga yang mendiami kawasan hutan di pegunungan di Kabupaten Maluku Tengah itu dilaporkan sempat mengganjal perutnya dengan makan dedaunan, kata seorang pendeta.

“Mereka bertahan hidup dengan makan daun,” kata tokoh masyarakat setempat, Hein Tualena, pada Selasa (24/07) seperti dikutip BBC News Indonesia.

Terungkapnya kasus kelaparan di Maluku ini mengingatkan kasus gizi buruk di Asmat, Papua, yang mengakibatkan lebih dari 70 warganya meninggal dunia, awal Januari 2018 lalu.

Warga suku Mausu Ane, yang diperkirakan berjumlah 170 orang, tinggal terpencar setidaknya di tiga lokasi di pegunungan Morkelle, yaitu di bantaran sungai Kobi, sungai Tilupa dan Lailaha.

Mereka juga hidup berpindah-pindah dan melakoni kehidupan berkebun dan berburu.

Beberapa laporan menyebutkan, untuk menuju lokasi mereka tinggal, dibutuhkan perjalanan lebih dari sehari dari kota Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah, dengan kendaraan dan kemudian jalan kaki.

Kendala lain yang dianggap membuat orang-orang dari suku Mause Ane ini agak kesulitan mendapatkan akses bantuan dari luar adalah kecenderungan sikap mereka yang mencurigai ‘orang luar’.

Selain wilayah tinggal mereka yang sulit dijangkau, menurut Hein Tualena, mereka sulit untuk ditemui.

“Untuk ketemu mereka agak sulit. Mereka tidak mau berbaur dengan masyarakat lain. Kalau ada orang baru, mereka tidak mau menjumpai, atau aparat keamanan mereka tidak mau menjumpai,” ungkap pimpinan Gereja Protestan Maluku di Kabupaten Maluku Tengah ini.

Anggapan seperti ini juga dilontarkan Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi bidang pencegahan penyakit dari Kantor Dinas Kesehatan Maluku Tengah, Hapsa Salampessy.

Dan saat kasus kelaparan ini mulai terkuak, Kantor Dinas Kesehatan Maluku Tengah pernah berupaya melakukan kontak dengan orang-orang itu, tetapi menemui kendala, tambahnya.

“Kita masuk hutan, dan kita mencari-cari, karena tidak ada titik tertentu yang bisa kita temukan. Untuk menemukan mereka agak sulit, kecuali mereka mendatangi kita,” kata Hapsa.

Bagaimanapun, setelah kasus kelaparan di Pulau Seram, Maluku, menjadi perhatian nasional, pemerintah akhirnya turun tangan dengan memberikan bantuan yang dipelopori Kodam XVI Pattimura dan Polda Maluku.

Sumber: BBC News Indonesia