Resensi: Sebuah Perlawanan dari Seorang Muchtar Daeng Lau

Irfan Abdul Gani*

MUCHTAR Daeng Lau, dalam bukunya “Dari Penjara ke Dakwah”, coretannya masih berisi seputar perlawanan atas ketidakadilan yang pernah ia peroleh.

Muchtar merupakan mantan terpidana kasus bom Makassar pada Desember 2002 silam. Peristiwa meledaknya sebuah bom di restoran cepat saji Mc. Donald’s, Mall Ratu Indah Makassar.¬†Peristiwa di toko penjualan mobil NV Hadji Kalla tersebut menyebabkan 3 orang meninggal, dan 15 korban lainnya luka-luka.

Dalam buku kedua Muchtar, yang di dalamnya terdapat pengantar Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal TNI Agus Surya Bakti, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, KH Sanusi Baco, itu, ia masih berkukuh jika di balik kasus tersebut diduga kuat ada konspirasi, dan Muchtar pun, sejak di persidangan hingga saat ini, mengaku tidak tahu menahu duduk permasalahan sehingga terjadi peledekan bom, sampai tuduhan dan vonis dialamatkan kepada Muchtar.

Buku ini, lagi-lagi saya menyebutnya; sebuah perlawanan dari seorang Muchtar Daeng Lau. Stigma sebagai mantan terorisme yang sudah terlanjur melekat pada sosok Muchtar tentu sangat sulit untuk dihilangkan.

Jika seorang Muchtar Daeng Lau hanyalah “orang biasa”, barang tentu ia akan memikirkan sebuah perlawanan yang bisa jadi terbilang ekstrim.

Namun karena Muchtar Daeng Lau merupakan sosok yang berilmu dengan pemahaman serta wawasan keislamannya luas dan luwes, apa yang telah menimpanya, telah ia bungkus rapi sembari menarik sedikit demi sedikit untaian pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Buku ini menarik untuk dijadikan pelajaran, terutama bagi pegiat dakwah Islam, yang ingin menyelami samudera arus pergerakan, sehingga akan mampu memberikan kehati-hatian, wabil khusus mengenali siapa lawan dan siapa kawan.

*) Penulis adalah penggagas Forum Penggiat Media Islami di Makassar

Editor: Faisal