Siapa Bilang Hijrah Itu Mudah?

Oleh: Fauziah Ramdani*

“Barangsiapa berhijrah di jalan ALLAH, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada ALLAH dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi ALLAH. Dan adalah ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terjemahan Q.S. An-Nisā’ 4 : 100)

SIAPA yang tak mengenal kata ‘hijrah’? Istilah ini tentu sudah sangat lazim bagi masyarakat secara umum . Menjadi ‘booming’ sejak masifnya jumlah kaum muslimin yang memilih mencari kehidupan yang lebih baik, berpindah kondisi dari ‘ aku yang dulu’‘ menjadi ‘aku yang sekarang’.

Istilah ini tidak hanya dikenal oleh kalangan religious saja, bahkan yang awwampun sudah sangat familiar dengan kata ‘hijrah’. Hingga akhirnya seringkali kita menemukan istilah bahwa ‘ hijrah itu mudah, dan yang sulit istiqomah (konsisten).’ Maka, di tulisan ini saya mencoba mengurai bagaimana bukti nyata bahwa proses hijrah adalah fenomena yang sangat sulit dan butuh perjuangan.

Jika kita menoleh kembali catatan panjang sejarah di masa kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentu saja inilah yang menjadi latar belakang utama mengapa istilah ‘hijrah’ (berpindah) ini menjadi sangat dikenali banyak orang. Meskipun peristiwa Hijrah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari Makkah Al-Mukarramah ke Al-Madinah Al-Munawwarah besar ini telah terjadi 1432 Hijriah silam, namun bagaimana hikmah dan pengaruhnya masih terus berlangsung dalam kehidupan kaum muslimin hingga hari ini.

Hijrah adalah sunnatullah dalam kehidupan para Nabi dan Rasul, seperti Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Kala informasi tentang hijrahnya para Sahabat ke Madinah tersebar , maka para pembesar Quraisy pada waktu itu telah mulai berfikir bahwa tidak lama lagi pasti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga akan melakukan hijrah, tentu dalam jangka waktu yang tidak lama setelah hijrahnya para Sahabat.

Maka sebelum itu terjadi, Abu Jahl yang membenci Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengundang seluruh pembesar dari setiap suku untuk membicarakan persoalan hijrahnya shallallahu’alaihi wasallam. Mereka tentu ingin menggagalkan hijrah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Majelis pertemuanpun dimulai hingga singkat cerita tercetuslah usulan-usulan dari para pembesar suku, ada yang mengusulkan agar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dibunuh, ada pula yang mengusulkan agar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di penjara sampai mati, di pasung sampai mati, Akan tetapi semua usulan ditolak oleh salah seorang pembesar yang hadir sebut saja namanya “fulan”.

Dia mengatakan bahwa apakah ada usulan yang lain, seketika Abu Jahal pun menyampaikan pendapatnya yaitu agar dikumpulkan anak muda yang hebat dari setiap kabilah untuk membunuh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sehingga tidak ada satu sukupun yang mampu membela Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam karena semua suku terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut.

Maka ‘ fulan’ mengatakan bahwa ini adalah usulan yang terbaik dan tidak ada usulan yang lebih baik dari ini. Tahukah kita siapa ‘fulan’ yang di maksud? Dalam sirah disebutkan, dia adalah Iblis. Iblis ternyata ikut dalam majelis pembesar Quraisy bahkan memberikan usulan dalam majelis tersebut. Begitu beratnya proses hijrah Nabi shallallahu’alaihi wasallam hingga Iblis pun turut andil agar rencana hijrah gagal terlaksana.

Peristiwa yang begitu luar biasa dan membuktikan bahwa hijrah itu sangat berat dan sangat ditakuti oleh Iblis , bagaimanapun caranya Iblis dari kalangan jin dan manusia yakni Abu Jahl saat itu berkeinginan kuat agar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak berhijrah agar mereka tetap melakukan ancaman fisik dan jiwa pada Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Begitulah proses hijrah tiada yang mudah, seseorang yang mendapati dirinya jatuh dalam kubangan maksiat dan terbuai dengan arus nestapa dan dosa lalu seketika menyadari diri tiada guna kecuali karena Allah Ta’ala semata yang menyiraminya dengan rezeki dan nikmat dunia tiada tara dan menolongnya agar kembali kejalan fitrahnya adalah mereka yang telah memahami esensi hijrah itu sendiri.

Saat ditatapnya wajah dicermin dengan dosa lisan , mata dan telinga, juga kaki dan telinga yang menjadi saksi kemaksiatan-kemaksiatan tiada jeda hingga tersungkurlah dihadapanNya bahwa kita semakin jauh dari ayat-ayatNya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Terjemahan QS. Al hasyr:18)

Ingatlah, Proses Hijrah tidak meminta kita menjadi manusia yang sempurna, tetapi mengajak kita menjadi pribadi yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sesaat bagi seorang Mukmin, sebab kehidupan akhirat yang kekal itulah sebenar-benarnya kehidupan. Hijrah tidak menagih kita untuk sempurna dalam lisan tiada kata yang keliru ,tiada laku yang khianat, sebab manusia pada lini kehidupan hijrahnya akan menemukan satu titik hijrah yang belum paripurna dan satu titik lainnya yang telah sempurna.

Jika pakaian hijab sebagai identitas takwa telah melekat ditubuh rupawan, maka mendapati akhlak yang masih acak-acakan bukan menjadi alasan untuk berhenti berhijrah atau sukses mengjustifikasi orang lain dengan hijrahnya yang masih tiada guna atau gagal.

Hijrah memang berat, bukan proses yang mudah, ada yang mampu mengkhatamkan alquran dalam waktu sebulan, sepekan bahkan dua hari saja, pula ada yang mampu bersabar dengan pakaian yang tertutup rapat kecuali mata yang terlihat saja,ada yang sangat mudah melangkahkan kaki menuju majelis ilmu, disatu sisi pula ada yang mudah bersedekah tanpa banyak alasan sana-sini, disisi lain ada yang masih ragu untuk melepaskan hatinya dari musik dan nyanyian, ragu melepaskan kebiasaan berteman dekat dengan laki-laki/ wanita yang bukan mahram, asyik terlena dengan tontonan bioskop, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya semua membutuhkan proses yang tidak singkat semudah kita membalikkan telapak tangan.

Tugas kita adalah meyakini dan terus memahamkan diri bahwa hijrah itu tak mudah, maka mendapati diri dengan kondisi keimanan yang meningkat, ketakwaan yang melaju tinggi, kebaikan yang senantiasa dicari-cari dan kekurangan yang giat ditutupi bergembiralah kawan kita masih berada diatas jembatan hijrah yang berkelok hingga zaman ini usai, percayalah Allah senantiasa membersamai hari-hari perjuangan hijrah ini. Insyaallah. Wallahu’alam.

*) Penulis adalah Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) PUSAT

PILIHAN REDAKSI