Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018, Kenapa Disebut “Blood Moon”?

JAKARTA (UMMAT Pos) — Gerhana bulan total akan disaksikan di langit Indonesia pada Jumat malam atau Sabtu 28 Juli 2018 dini hari mendatang. Warna bulan tak lagi kuning pucat seperti biasanya. Saat itu, bulan akan berwarna oranye hingga rona merah darah.

Warna serupa darah inilah yang membuat gerhana bulan total selalu disebut sebagai Blood Moon atau bulan darah. Namun, sebenarnya, bagaimana bulan berubah warna saat gerhana?

Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, menerangkan bahwa warna merah darah Bulan disebabkan oleh pembiasan.

“Hal itu mudah dijelaskan kalau kita melihatnya dari bulan. Astronot di permukaan bulan saat itu sedang menyaksikan gerhana matahari oleh bumi. Bumi tampak dikelilingi cahaya kemerahan akibat atmosfer yang membiaskan cahaya merah dari matahari. Cahaya biru dari matahari dihamburkan oleh atmosfer bumi,” tulisnya.

BACA JUGA: Inilah Tata Cara Shalat Gerhana (Kusuf) Sesuai Sunnah

Inilah sebabnya mengapa gerhana bulan berwarna oranye-merah. Semua cahaya berwarna itu difokuskan pada bulan dalam bayangan berbentuk kerucut yang disebut umbra. Bulan juga tertutup debu ultra-halus, seperti kaca batu yang disebut regolith, yang memiliki properti khusus yang disebut “backscatter”.

“Jika Anda berdiri di permukaan bulan selama gerhana bulan, Anda akan melihat matahari terbenam dan naik di belakang Bumi,” kata David Diner, seorang ilmuwan planet di Jet Propulsion Laboratory NASA, dikutip dari Business Insider, Ahad (22/07/2018).

“Anda akan mengamati sinar matahari bias dan tersebar saat mereka melewati atmosfer di sekitar planet kita,” sambungnya.

Debu-debu tersebut memantulkan cahaya itu kembali. Kualitas Atmosfer Untuk diketahui, warna merah dari satu gerhana bulan satu dengan yang lain tidak pernah sama. Itu karena aktivitas alam dan manusia mempengaruhi atmosfer Bumi.

BACA JUGA: Shalat Gerhana, Upaya Islam Melawan Mitologi

“Polusi dan debu di atmosfer bawah cenderung menundukkan warna matahari terbit atau terbenam, sedangkan partikel asap halus atau aerosol kecil yang terletak di ketinggian tinggi selama letusan gunung berapi besar dapat memperdalam warna ke warna merah yang intens,” kata Diner.

Dirangkum dari Live Science, Selasa (30/01/2018), kondisi atmosfer juga dapat mempengaruhi kecerahan warna. Misalnya, partikel ekstra di atmosfer, seperti abu dari api besar atau letusan gunung berapi baru-baru ini, dapat menyebabkan bulan muncul warna merah yang lebih gelap, demikian menurut NASA.[fm]

Diolah dari berbagai sumber