Begini Penampakan Gerhana “Blood Moon” di Turki dan Negara Lainnya

ISTANBUL (UMMAT Pos) — Para pengamat bintang di seluruh dunia mencari penampakan gerhana bulan atau yang diistilahkan dengan “blood moon” pada hari Jumat malam, fenomena gerhana bulan ini disebut gerhana terlama di abad ke-21.

Orang-orang di Turki turun ke jalan-jalan dan tempat-tempat yang memungkinan mereka  untuk melihat bulan yang tampak berbeda karena diselimuti rona kemerahan seperti darah.

Penampakan Bulan di atas kota dekat pantai Istanbul. Foto: Fiveprime

Orang-orang yang tinggal di Antalya, Konya, Istanbul, Van, Adana dan banyak kota Turki lainnya juga tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan fenomena langka tersebut.

Dari Tanjung Harapan hingga Timur Tengah, dan dari Kremlin ke Sydney Harbour, ribuan orang mengalihkan pandangan mereka ke langit, berharap untuk melihat bulan yang mulai tampak oranye, coklat atau merah saat bergerak ke bayangan bumi.

Penampakan Gerhana “Bulan Merah Darah” di atas bangunan bersejarah Hagia Sophia di Istanbul. Foto: Pinterest

Gerhana total berlangsung 1 jam, 42 menit dan 57 detik, meskipun gerhana parsial mendahului dan mengikuti, yang berarti bulan akan menghabiskan total 3 jam dan 54 menit di bayangan umbral bumi, menurut NASA.

Gerhana sepenuhnya, pada 2022 GMT, terlihat dari Eropa, Rusia, Afrika, Timur Tengah, sebagian besar Asia dan Australia meskipun awan bisa menghalangi bulan.

Blood Moon di atas langit Jakarta. Foto: IDN Times

Di Timur Tengah, bulan tampak mengesankan di atas Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi sementara di Kenya tampak indah di atas bangau Marabou yang bersarang di pohon Nairobi.

Di tepi Sungai Gangga India, kuil-kuil ditutup menjelang gerhana. Di Singapura, banyak warga yang berkumpul dan berharap bisa menggunakan teleskop di Marina South Pier.

Ratusan orang di Australia menyaksikan gerhana dari Observatorium Sydney sebelum matahari terbit.

Patung Pancoran seakan hanya satu centimeter dari bulan “raksasa” itu. Foto: IDN Times

“Tiket acara kami terjual habis, ada ratusan orang yang telah berpesan untuk datang dan menontonnya bersama kami,” kata Andrew Jacob, kurator di Observatorium Sydney, yang terletak tepat di dekat Harbour Bridge.

Profesor astronomi di Universitas Cambridge, Andrew Fabian mengatakan gerhana ini disebut bulan darah karena cahaya dari matahari menembus atmosfer bumi menuju bulan, dan atmosfer bumi mengubahnya menjadi merah dengan cara yang sama ketika matahari terbenam ia menjadi merah,” Mengutip Reuters,

Blood Moon di atas langit Yerusalem, Palestina. Foto: pinterest

“Ini adalah fenomena yang sangat tidak biasa,” kata Robert Massey, wakil direktur eksekutif Royal Astronomical Society, yang akan mencoba untuk menonton gerhana dari Laut Mediterania.[fm/dailysabah]