Ketua Parlemen Turki seru AS agar menghentikan bahasa ‘ancaman murahan’

ANKARA (UMMAT Pos) — Ketua Parlemen Turki Binali Yildirim merespon ancaman Amerika Serikat terhadap negaranya belum lama ini. Mantan Perdana Menteri Turki itu juga menyeru Washington untuk berhenti menggunakan bahasa ancaman, jika ingin meningkatkan hubungan kedua negara untuk jangka panjang.

Yildirim mengingatkan bahwa Washington telah memberi perlindungan tanpa batas bagi Fethulah Gulen, pemimpin Fethulahist Teror Organisation (FETO). Gulen disebut sebagai aktor utama dalam upaya kudeta berdarah yang berhasil digagalkan di Turki pada Juli 2016 silam.

Jika Amerika Serikat, imbuh Yildirim, menganggap diri sebagai negara hukum, maka Turki juga negara hukum. “Dengan begitu, Washington harus menghormati keputusan-keputusan peradilan,” lanjutnya. Ia juga menyeru agar AS menghentikan bahasa ‘ancaman murahan’, dan mencari cara untuk mendapatkan kepercayaan rakyat Turki.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump dan Wapres Mike Pence mengancam akan memberlakukan sanksi bagi Turki. Hal itu dilakukan jika Ankara tidak segera membebaskan Pastor asal AS, Andrew Brunson.

“Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi besar pada Turki untuk penahanan lama terhadap Pastor Andrew Brunson, seorang Kristen yang hebat, pria berkeluarga, dan manusia yang luar biasa,” tulis Trump di Twitter.

Ancaman serupa juga disampaikan Wapres AS, Mike Pence, seorang Kristen yang taat. Bahkan ancaman ia tujukan langsung kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Kepada Presiden Erdogan dan Pemerintah Turki, aku punya pesan atas nama presiden Amerika Serikat: bebaskan Pastor Andrew Brunson sekarang atau bersiaplah untuk menghadapi konsekuensinya,” kata Pence di sebuah acara kebebasan beragama yang diselenggarakan oleh departemen luar negeri AS.

Andrew Brunson adalah seorang pendeta Kristen dari Carolina Utara. Sudah lebih dari dua dekade terakhir ia tinggal di Turki.

Brunson ditangkap di Izmir pada 09 Desember 2016 silam. Ia dituduh melakukan kegiatan spionase dan mengadakan kegiatan di seluruh Turki dengan kedok operasi misionaris, dihubungkan dengan FETÖ dan PKK, serta mengganggu urusan internal Turki.[fm]