Aliansi Militer Arab Saudi Klaim Hancurkan Basis Peluncuran Rudal Houthi

RIYADH (UMMAT Pos) — Aliansi militer yang dipimpin Arab Saudi pada Ahad (29/7/2018), mengklaim telah menghancurkan situs peluncuran rudal balistik milik pemberontak milisi Houthi di Yaman.

Situs peluncuran tersebut diyakini merupakan tempat bagi pemberontak Houthi menembakkan rudalnya yang mengarah ke wilayah Kerajaan Saudi.

Mengutip pernyataan dalam stasiun televisi yang dikelola pemerintah Saudi, Al Ekhbariya TV, koalisi mengatakan telah menghancurkan situs peluncuran rudal balistik milik milisi Houthi yang berada di Saada, sebuah provinsi di Yaman utara yang berbatasan dengan Arab Saudi.

Tindakan penghancuran situs peluncuran tersebut sebagai wujud peringatan keras koalisi kepada kelompok Houthi yang tidak mengizinkan milisi tersebut membangun kekuatan militer.

“Koalisi tidak akan mengizinkan milisi Houthi untuk membangun kemampuan militer yang dapat mengancam wilayah perairan kawasan,” kata koalisi dalam pernyataannya, dilansir AFP.

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi telah berjuang bersama dengan pemerintah Yaman untuk melawan kelompok Houthi yang didukung Iran dalam peperangan yang telah merenggut hampir 10.000 jiwa.

Aliansi ini telah mengintervensi perang di Yaman sejak tahun 2015 untuk mendukung pemerintah negara yang diakui secara internasional setelah pemberontak Houthi memaksa Presiden Abedrabbo Mansour Hadi keluar dari ibukota Sanaa.

Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman telah menjadi salah satu sasaran milisi Houthi.

Sepanjang tahun ini, intensitas serangan misil yang diluncurkan Houthi ke wilayah kerajaan Saudi terus mengalami peningkatan.

Serangan Houthi bahkan telah mulai menyasar kapal-kapal milik Arab Saudi.

Akibat serangan tersebut, pengekspor minyak mentah terbesar di dunia itu pekan lalu mengumumkan untuk menghentikan sementara pengiriman minyak melalui Selat Bab al-Mandab setelah serangan rudal Houthi pada kapal Aramco.

Selat tersebut yang menghubungkan Laut Merah ke Laut Arab merupakan bagian penting untuk minyak dan perdagangan dunia.(AFP)

Editor: faisal

PILIHAN REDAKSI